![]() |
| Merajut Nusantara: Rindu Pancasila |
Peresensi : Fathu Sururi
Judul Buku : Merajut Nusantara: Rindu Pancasila
Penyunting : Mulyawan Karim
Penerbit : Kompas
Edisi : Cetakan I, Oktober 2010
Tebal : 278 halaman
Gaung kemerdekaan telah 65 tahun berlalu, sejak tegak berdiri sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia, Pancasila sebagai ideologi bangsa mengalami pasang surut. Orde baru yang memaksakan ideologi Pancasila sebagai asas tunggal, menjadikan pandangan terhadap Pancasila menjadi negatif.
Pasca reformasi 1998, Pancasila seperti anak hilang. Tak satu pun memperhatikan nasib Pancasila yang mulai tua renta ini. Para elite sibuk dengan dunia politik sehingga mengabaikan Pancasila, para koruptor terus menggerogoti bangsa dari dalam, rakyat pun lupa akibat kemiskinan, pengangguran yang tak pernah ada habis-habisnya.
Alhasil, Pancasila sebagai ideologi yang selayaknya dihayati dan diimplementasikan oleh segenap entitas bangsa, saat ini, dibaca pun tidak. Tentulah, sebagai warga negara yang sadar pentingnya nilai-nilai luhur Pancasila, mengembalikan Pancasila ke posisi semula adalah sebuah cita-cita luhur untuk tetap menjaga eksistensi Pancasila. Sebuah kerinduan akan hadirnya kembali Pancasila ke dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Ditengah kekerasan dan diskriminasi antar agama yang tiada ada habisnya. budaya korupsi, kolusi dan nepotisme yang merajalela. Persoalan rakyat mulai dari pendidikan, kesehatan, kemiskinan, pengangguran yang tak kunjung ada penyelesaian yang konkret. Maka, kumpulan esai-esai menyejukkan dari buku “Rindu Pancasila” akan menyegarkan kembali pemahaman Pancasila kita yang mulai memudar.
46 judul esai dipisah ke dalam 7 bab sesuai dengan tema masing-masing. Bab I hingga bab V berisi tulisan-tulisan yang mencoba menafsir ulang makna dan semangat sila demi sila yang ada dalam Pancasila serta mengaitkannya dengan dengan kondisi riil saat ini. Selanjutnya, bab VI berisi tulisan-tulisan buah perenungan dan pengamatan yang mencoba mengaitkan baragam impian, cita-cita, dan harapan bangsa. (hal. xi)
Pada bab terakhir, yakni bab VII sebenarnya tidak terkait langsung dengan persoalan Pancasila. Akan tetapi, lebih kepada refleksi dari polemik dalam masyarakat yang kebetulan muncul disekitar hari peringatan kemerdekaan. Kontroversi tersebut terkait gaya kepemimipinan nasional yang lemah dan tak berkarakter positif yang merupakan sumber persoalan mahabesar.
Buku yang diawali oleh tulisan Jakob Utama wartawan senior Kompas mengutarakan kegusarannya terhadap Pancasila dengan merefleksikan hari proklamasi yang sejatinya adalah ide besar, cita-cita agung dengan tujuan yang riil bangsa. Lanjutnya, Bangsa saat ini sedang menghadapi masalah, yakni kultur kekuasaan yang tidak bersih. Demokrasi masih dalam kerangka prosedural belum kepada substansial. Dan di tutup oleh tulisan M. Fajroel Rahman yang menekankan agar semua elemen masyarakat jangan sampai lelah dan letih untuk terus mencintai bangsa ini.
Buku ini layak dibaca ditengah pesimisme terhadap kebangkitan dari krisis multidimensi yang diakibatkan oleh mengendurnya nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
FATHU SURURI
Ketua DM Pesantren IAIN Sunan Ampel Surabaya 2010-2011
Santri PBSB (Program Beasiswa Santri Berprestasi) Kementrian Agama RI







Tidak ada komentar:
Posting Komentar