Indonesian Blogger

Banner iskaruji dot com

Jumat, 30 Desember 2011

WELIRANG

Gunung Welirang nan Indah

Post pertama
Malam ini malam jum’at, malam yang indah karena bulan pun tak malu-malu menampakkan semua sisi tubuhnya. Terangnya sinar bulan tak kuhabiskan untuk melihat sang bulan, padahal bintang pun ikut-ikutan nampak. Menambah eksotisnya langit. Tapi malam yang begitu indah untuk dinikmati tak kulewatkan dengan baik. Jadilah malam yang biasa, inilah virus libur kuliah membuatku banyak menghabiskan waktu sia-sia. Walaupun begitu mempesonanya malam tak menggodaku untuk sejenak keluar dan menikmatinya. Kulewatkan hanya dengan menonton acara televisi yang banyak digemari teman-teman asramaku, OPERA VAN JAVA. Hahaha, wkwkwkwk, lucu, peran ajiz gagap dengan sok kepolosannya, kasian dia sering dijailin ma temen-temenya, tapi memang lucu. Ditambah kekonyolan sang dalang parto, lawakan khas sule, keganasan wanita yang diwakili nunung, ditambah gantengnya andre, memang komposisi yang pas. Menonton lawak sejenak melupakan kepenatan menganggur tanpa aktifitas.
bingung, angin apa yang membawa aa latif kepadaku, dia menawari untuk  mendaki gunung welirang dan arjuno, yang tingginya, 3100 meter dan 3200 meter. Angka fantastis untuk sebuah ketinggian gunung. Aku pun berfikir sejenak, menimbang dengan cepat keuntungan dan kerugian, termasuk resiko. Ah sudahlah, sudah lelah menganggur di asrama. Akhirnya, kusetujui permintaan aa latif untuk mendaki gunung. setelah ada anggukan dariku, dia memantapkan sekali lagi, karena memang sangat beresiko, apabila tidak benar-benar siap mental dan fisik. Kubalas dengan anggukkan mantab. Kemudian menjelaskan peralatan yang harus dibawa. Selain peralatan pribadi untuk mencegah kedinginan, aku pun kebagian untuk membawa lima bungkus mie, dan tentu sepeda motorku. sebelum pergi dia b“jangan lupa Berangkat jum’at malam jam sepuluh”. “oke” tegasku
===
Pagi keesokan harinya kubangun dengan wajah cerah. Setelah shalat subuh dan membaca Qur’an satu ruku’, kuingat-ingat peralatan yang diharuskan untuk dibawa “sarung tangan lum ada, jaket, ehm sudah ada, jaket pink ku sudah cukup hangat, sepatu kaos kaki ada, sepatu futsal, tapi kurang nie kaos kaki buat cadangan, gimana yach?  oya ada hamim tinggal minjem ja denk, mie beli kewarung belakang, syip deh sudah lengkap peralatanku”
===
Jam 10. 11 malam. Setelah packing. Hanya tinggal menunggu mas hasanuddin. Pecinta alam sebagai Pemandu perjalanan mengaruni gunung wilerang dan arjuna. Agak telat memang dari jadwal yang dijanjikan. Mas hasan datang 22. 35 WIB.
Setelah dirasa sudah siap dan mantap, perjalanan pun dimulai. Walaupun sebenarnya sepeda motorku tidak sehat. Gir rantai sudah lancip, saatnya untuk diganti, Ban belakang goyang, mungkin klahernya, sehingga apabila motor berjalan dibawah 40 KM/jam terasa goyangan dari ban. Tapi itu tidak kuhiraukan. Lampu depan juga tidak fokus, stop kontaknya sering error jadi kadang hidup kadang mati. Tak masalahlah, mungkin kekuatan do’a akan menghindari dari hal yang tidak diinginkan. Dari iain, menembus Jl. A. Yani dan berhenti sebentar di pom bensi aloha, mengisi bensin sepuluh ribu. Dari pada di pinggir jalan yang bukan pom, memakai botol yang isinya belum tentun satu liter. Angin ban pun di isi dahulu dipom ini, karena pom menyediakan pengisian radiator dan angin gratis. Perjalanan dilanjutkan, menembus sidoarjo sampai  diawal pandaan
....BERSAMBUNG....

Ibu dan Waktu (rekflesi Hari Kartini)

Ibu Kartini
Belumkah juga Aku tersadar begitu cepat-melesatnya waktu telah berjalan,  nyawa ini semakin lama semakin terkikis-habis, hanya belum terbangun untuk menyadari dan memahami dunia telah berubah, walaupun sebenarnya Aku mengetahuinya, sejak dahulu. (Itulah kebodohanku... )
Termenung sejenak dalam keheningan malam. Mengingat memori duhulu, masa kanak-kanak ketika masih duduk manis dibangku Sekolah Dasar, bermain, menangis, makan lontong sayur 300 rupiah, es 50 rupiah, rutinitas yang tak pernah lepas dari ingatanku. Nilai merah untuk mata pelajaran IPA, IPS dan MTk, selalu saja hadir dalam raporku. (maaf Umi.....terima kasih kasih sayangmu).
Dulu masih dalam pangkuan ibunda, merengek meminta mainan, sekarang sudah masanya untuk membalas jasa beliau, walaupun pengorbanan beliau jelas tak akan terbalas walau dengan dunia dan seisinya. Berkeriput sudah tangan dan wajah ibunda. sirna sudah masaku digendongannya, tapi belum juga kusiapkan perbekalan untuk membalas jasa beliau.
Kini telah tumbuh dewasa. Tapi, masih juga tak bisa mendewasakan perilaku dan pikiranku. Masih berkutat dengan pesona ‘kekanak-kanakan’ padahal pintu kedewasaan usia telah diambang, dipelupuk mata. 21 tahun sudah Aku menghirup dan melepaskan udara ke alam bebas. Tapi, serasa begitu cepatnya. Semester enam sudah kujalani perkuliahan, tapi belum kukemas bekal untuk pulang. Ilmu apa yang akan kuhadiahkan bagi perjuangannya yang begitu berat dan keras sampai Aku dapat menikmati bangku kuliah seperti saat ini???
Begitulah diriku, begitulah waktu......Waktu tak pernah berkompromi denganku, tak sedetikpun berhenti untuk sejenak mengingatkanku akan amat sangat pentingnya menghargai waktu. Waktu sudah tak mau membantuku lagi untuk mengembalikan diriku pada keadaan dimana Aku akan sadar bahwa waktu begitu mulia, begitu agung.
Kini aku telah berdiri lemah-lunglai di pintu gerbang peraduan keremajaan-kedewasaan, Aku hanya bisa termenung,,,,,sesekali sesenggukan....meneteskan bulir air mata yang menyisa,,,,menyesali 21 tahun waktu yang telah aku peluk sia-sia, tak bernilai dan lapuk. Mungkin bernilai, tapi tak sebanding dengan besarnya harapan jika benar-benar aku gunakan semestinya.
Derai air mata yang menderaku detik ini, sebagai pukulan telak atas kemalasanku masa lalu. Bisakah Aku merubah keadaan ??? jika bisa itu tak akan mengubah masa laluku yang kelam. Tak bisa sesempurna apabila aku terbangun diwaktu sejarah telah terukir-berkarat.
Bukanlah Aku menyesali semuanya, tapi dalam waktu yang singkat ini, apa yang akan Aku persembahkan kepada ibundaku sang pejuang. Waktu tenggang telah memudar, kini Aku gugup dalam kebingungan, menempuh kedewasaanku dalam kerapuhan.
Waktu bantulah Aku......!!!
Ibu maafkan Aku.....!!!
(renungan hari Kartini dan menjelang miladku ke-22)






Renunganku : Cerita ‘Afa dan ‘Afi

Cerita dua sahabat antara ‘Afa dan ‘Afi. ‘Afa memberikan nasihat kepada ‘Afi. 
Merenung
 
 

‘Afi,Tahukah kau?
Membangun relasi sulitnya seperti membangun jembatan suramadu, berpuluh-puluh tahun direncanakan baru tahun 2010 baru bisa dinikmati. seperti mengukir di atas batu, atau memahat kayu. Kalau tidak hati-hati maka akan gagal. Itulah sekelumit deskripsi membangun relasi. Untuk dipercaya dan mampu mengemban amanah, Rasul dimatangkan umurnya 40 tahun. Dalam hemat saya, maksud dari ini bahwa rasul ditunggu mencapai 40 tahun baru dipercaya menerima wahyu pertama.
Jadi jangan sampai egomu menghangus-branguskan relasi yang sudah dibangun dengan susah payah. Ingat, jangan samakan hati orang lain sama dengan dirimu. Kepercayaan orang kepadamu selama ini jangan kau khianati hanya karena egomu. Ingat!
‘Afi, Mengertikah kau?
Memberikan penghargaan sangat ringan tinggal berkata “ idemu brilian”, “bagus...bagus....”, “cerdas...!” tapi entah, seakan sulit bagi lidahmu  untuk memberikan penghargaan bagi  kawanmu yang berprestasi atau memberikan dedikasi, lidah seakan sudah mati untuk memberikan penghargaan, atau karena gila penghargaan sehingga dirimu tidak ingin orang dihargai dengan sepantasnya. Lidahmu sudah terbiasa untuk mengkritik dan menyalahkan orang lain. Sangat sulit untuk menghargai kerja keras orang lain. Entah karena faktor apa, yang pasti ini sudah menjadi laten manusia.
‘Afi, Sadarkah kau?
Selama ini disekelilingmu sangat menghargai dan mencintaimu. Tapi, kenapa seakan kau apatis terhadap mereka, kau sering menyakiti mereka. Dan tidak menghargai mereka. Kau hanya memikirkan dirimu sendiri dan tidak memikirkan orang lain. Kau seakan ingin senang sendiri dan tidak ingin berbagi dengan orang. Kau berteman hanya kepada orang yang kau list sebagai temanmu Dan memblacklist yang lain. Dengan seenaknya mengatakan dia tak pantas berteman denganmu karena ada hal yang remeh temeh yang terjadi antara dirimu dan dirinya.
‘Afi, fahamkah kau?
Teman yang selama ini bercengkrama denganmu, sejatinya tak akan tega menyakiti hatimu, jadi jangan terlalu sensitif dengan suatu keadaan, anggaplah itu suatu anugrah. Atau kalau kau merasa sakit hati atas perlakuan temanmu, katakan kepada hatimu bahwa itu sekedar guyonan belaka. Jangan kau tampakkan muka sinismu pada mereka, jangan kau tampakan muka tidak senangmu kepada mereka, karena mereka sejatinya sangat sayang kepadamu.

Terima kasih ‘Afa atas nasihatmu. Sekarang aku mulai tahu, mengerti, sadar dan faham. Sekali lagi terima kasih banyak.

PANCASILA (TINGGAL) NAMA

Garuda
Pancasila Kita
Pancasila seperti sudah kehilangan ruhnya, Pancasila bukan lagi sebuah ideologi bangsa dan negara yang harus dihayati maupun diamalkan oleh segenap rakyat Indonesia. nasib Pancasila kini tinggal sebuah sejarah, Pancasila seperti sudah dikeremasi, masuk keranda tinggal menuggu kapan akan “dikuburkan”.

Bukan sekedar fobia semata, fakta berbicara, hasil survei yang dilakukan harian Kompas yang dirilis pada 1 Juni 2008 dalam bukunya As’ad Said Ali (Negara Pancasila, Jalan Kemaslahatan Bangsa) memperlihatkan bahwa pengetahuan masyarakat mengenai Pancasila sungguh memprihatinkan, 48,4 persen responden berusia 17-29 tahun tidak bisa menyebutkan sila-sila Pancasila secara benar dan lengkap; 42,7 persen responden berusia 30-45 tahun salah menyebutkan sila-sila Pancasila; dan responden berusia 46 tahun ke atas lebih parah lagi, yakni sebanyak 60,6 persen salah menyebutkan kelima sila Pancasila.

Tentu survei ini tidak bisa menjadi acuan karena sudah tiga tahun telah berlalu. Tapi, asumsi bahwa pemahaman rakyat Indonesia tidak berubah, malah bertambah parah muncul ketika saya menonton program di sebuah stasiun televisi nasional tanggal 27 April kemarin, seorang mahasiswi perguruan tinggi ketika ditanya untuk menyebutkan sila-sila Pancasila, menjawab dengan terbata-bata, terbolak-balik kata maupun urutan silanya. Sebuah fenomena kebangsaan yang miris dalam hati, Padahal, secara logika saja, kalau Pancasila memang benar-benar dihayati maupun diamalkan sebagai sebuah ideologi bangsa yang harus dijaga maupun dilestarikan, maka sudah sepantasnya tidak lupa dengan sila-sila Pancasila tersebut seperti halnya membaca al- fatihah dalam salat bagi seorang muslim.

Kita secara lumrah faham, jika mahasiswa saja yang menjamah pendidikan sampai pada taraf tinggi pengetahuan mengenai ke-Pancasila-annya diragukan, apalagi yang bukan mahasiswa, yang akses pendidikan tidak sampai. Tentu mereka akan bertanya-tanya apa itu Pancasila, dan buat apa Pancasila. Bukankah begitu?

Ideologi bangsa sudah tidak lagi dihafal apalagi dihayati, diamalkan dan ditafsirkan dalam upaya reaktualisasi dan kontekstualisasi terhadap perkembangan zaman, agar selalu shalih likulli zaman wal makan (sesuai disetiap waktu dan daerah).

Dewasa ini, disadari atau tidak, kekerasan yang timbul akhir-akhir ini merupakan implikasi dari lemahnya pemahaman wawasan ke-Pancasila-an dan ke-Nusantara-an rakyat Indonesia. Dimana Bhineka Tunggal Ika yang merupakan instrumen pemersatu dari keragaman bangsa ini sudah disposisi jauh dari rel cita-cita bangsa ini. Terlebih, semangat gotong royong yang merupakan ruh bangsa sebagai cerminan Ekasila tidak lagi menjadi lokomotif pembangunan nasional.

Nilai-nilai luhur yang terkandung dalam Pancasila merupakan sari pati dari nilai-nilai luhur bangsa ini. Tapi kini telah mulai luntur terkikis habis oleh lemahnya kepemimpinan, birokrasi yang amburadul, korupsi yang merajalela, jual beli kasus yang merebak, mafia pajak, angka kemiskinan yang tak kunjung menurun, akses pendidikan yang sulit, terorisme yang tak habis-habisnya dan masalah masalah lain yang sedang dihadapi bangsa ini.

Fase Kritis dan Upaya Revitalisasi
Indonesia sedang dalam fase kritis antara hidup dan mati. Dan penawarnya adalah bagaimana mengembalikan ruh Pancasila yang merupakan cita-cita para fonding fathers kepada jalur sebenarnya.

Rapuhnya konstruksi kesakralan Pancasila sebagai ideologi (way of life) berbangsa dan bernegara, merupakan tugas bersama yang benar-benar harus menjadi agenda besar pemerintah khususnya, kalau Pancasila saja rapuh-kata Mahfud MD- maka rapuh pula bangsa ini, kerapuhan ini apabila kita bergerak lambat apalagi melakukan pembiaran, maka akan berakibat fatal terhadap Kesatuan Republik Indonesia.

Yang perlu diperhatikan adalah jangan sampai reposisi Pancasila sebagai bentuk keprihatinan pemerintah dikemas dalam bentuk pemaksaan, kekerasan, seperti yang kita alami pada masa orde baru. Tapi lebih kepada upaya penyadaran bersama, atau boleh disebut penyadaran akbar-bukan sekedar istighosah akbar-terhadap pentingnya Pancasila sebagai ideologi bangsa untuk dihayati, diamalkan oleh segenap rakyat bangsa ini.

Cukuplah rezim soeharto yang memaksakan Pancasila sebagai asas tunggal organisasi menjadi sejarah yang harus kita evaluasi. sehingga tindakan represif yang malah mengaburkan nilai-nilai luhur Pancasila tidak terulang kembali di masa kini.

Gerakan penyadaran secara persuasif yang menarik simpati rakyat, akan menimbulkan rakyat Indonesia siuman sendiri tanpa harus dibangunkan dengan kerja keras pemerintah. Selain mempermudah kerja pemerintah, hal ini juga akan menjadikan Pancasila terinternalisasi ke dalam jiwa masing masing rakyat Indonesia karena benar-benar merupakan penghayatan rakyat Indonesia sendiri terhadap nilai luhur bangsa ini, bukan karena intervensi pemerintah.

Upaya Pemerintah dalam merevitalisasi kembali nilai luhur Pancasila seyogyanya juga merangkul ormas-ormas Islam seperti NU, Muhammadiyah, Persis, MA (Mathlaul Anwar) dan lain-lain sebagai partner kerja. Sehingga kerja pemerintah bertambah ringan dan PR-PR berat pemerintah yang lain, seperti pengetasan kemiskinan, memperbaiki pendidikan yang bobrok, “menghabisi” para koruptor tetap bisa menjadi fokus utama dalam membangun good and clean goverment.

Wal hasil, restorasi Pancasila dalam bentuk penanaman kembali nilai-nilai luhur Pancasila sebagai ideologi bangsa tinggal menunggu langkah cepat-konkrit pemerintah. Terlambat sedikit dalam penanganan akan fatal akibatnya, dan implikasinya kegiatan-kegiatan anarkisme-destruktif-konfrontatif akan selalu menghantui rakyat dan bangsa ini. Semoga pemerintah dapat bergerak cepat sehingga “hantu-hantu” bangsa ini bisa diberantas hingga keakar-akarnya.

FATHU SURURI
Ketua DM Pesantren IAIN Sunan Ampel Surabaya 2010-2011
Santri PBSB (Program Beasiswa Santri Berprestasi) Kementrian Agama RI

Munawarah.....



Munawarah


Namamu seelok wajahmu
Wajahmu seterang matahari
Sesejuk bulan
Kusapa namamu dipagi tuk dapatkan senyum serimu
Hatiku kupenuhi dengan cahaya parasmu
Kuikat dengan lembut sapamu
Kutegur dengan namanu
Munawwarah
Bulan jadi saksi pada indah malam
Bintang jadi sahabat pada gelap gulita
Kusebut namamu dikesejukkan
Sambil berdendang

Memimpimu dipelukkan
Hadirkan bidadari surga

PALSU

Always Love U


Senyumku palsu

Tawaku palsu

Gurauku palsu

Perhatianku palsu

Apatisku palsu

Tenangku palsu

Gundahku palsu

Sedihku palsu

Tangisku palsu

Marahku palsu

Ibaku palsu



Kepalsuan itu menelusup hatiku

Kepalsuan menjadi darah dagingku

Kepalsuan penuhi semua gerak tubuhku

Kepalsuan merongrong seluk beluk kehidupanku



Semua ini palsu

Semoga, Kau tidak tahu apa itu palsu

Dan tak mengetahui kepalsuanku



Tapi ada yang saat ini kukenal tak palsu

I LOVE YOU

TERANG SELALU ADA

Idaman

Saat aku diam dalam cinta terpendam, maka angkatlah bicara

Katakan padaku bahwa diri ini pantas untukmu

Kediamanku bukanlah rumput yang selalu goyah diterpa angin

Tapi, ketakutanku akan mulianya dirimu

Aku tahu arah jalanmu bukan menemuiku

Tapi asaku tak akan berpaling selainmu

Akan selalu kupandangi bayangmu dalam impian

Bolehlah mentari telah terlelap

akan kutunggu esok penuh cahaya

Kapankah aku harus mencuri kesempatan

Di saat kesempitan selalu menghalang




AKU-KAMU

Demo

Aku
Setan telah merasuki
Harapan sudah mati
pejabat telah birahi
Hanya uang yang dinikmati
Derita rakyat yang ditertawai
Hak-hak rakyat Tak dipenuhi

aku ajak kau bela rakyat
tapi maaf, disini tak kau temukan salat
mati leburkan tirani
sebuah kemuliaan seperti sang “nabi”
menyembahNya, tunggulah hari tua
dimana tenagamu telah merana

Akhlakku begitu mulia
Bela rakyat demi bangsa
Tapi Tuhan tak pernah ku sapa
Inilah jalan hakikat
Dimana shalat hanya salah satu jalan perekat

Masihkah kau pulas
Dimana otak penguasa begitu culas
Rakyat menjadi korban
Kau senang-senang liburan
Dimana hatimu berada
Kau tertawa di atas deritanya
Hanya duduk diam
Sampai ajal beri salam

Kamu
Apakah ini jalan Tuhan
Menanggalkan syari’at berteriak di jalan
Bela rakyat demi kemaslahatan
Hingga Shalat kau tanggalkan

Benarkah tanpa kepentingan
Nafasmu penuh kebenaran
Atau hanya slogan-slogan
Berpura ria dalam kebohongan

Setelah kau berbahaya
Terangkat menjadi sang mulia
Yang ada, kami kau lupa
Suaramu menjadi buta
Entah oceh kemana

Biarlah kau anggap aku bangkai
Manusia yang hanya mengerti kata damai
Ku tak mengerti suara perjuangan
Ku hanya ingin belajar tasrifan
Pulang kampung, guru ngaji
Mengajar alif-ya sampai mati

UnTUK mU bIdAdARI gElApKU

Bidadari


terSurUt hAtI uNtuk beRucAp
betApa cIntA inI telAh lamA tak terUngkAp

Kelembah cIntA tAnpa haRap,
IyakAh dIrikU telAh teRjerembab...???

dARi Fajar hInggA senjA kUreSapI
BetApa elok  unggah-ungguhmu duhAi bidadAri
teRayUn sEnyUm serImu memAnggIl
TerAsa badAn inI kakU-mEnggIgil

KuakuI ialAh Aku menggilA
terhAdap dirImU yAng sedeRhanA
tApi dIsanalAh puncAk peSonA
menyUngkurkankU ke dalam bUmi cintA tAnpa dAya

meneRbangkAn rAsa menjaUh untUk menolAk
mengApa hatikU selAlu mendeSak
meridhAi cInta inI menyeruAk
menjernIhkan nAda cInta yAng Selalu berteriAk
ApaKah cinta ini beriAk...???
tertandA ia tiAda telaK.....

selamA cintA ini tAk terSibaK
selAma lisan ini selalu mengelAK
SelamA keadAAn tak menyingkAp
SelamA itu pUla dAda ini menyesAk
dAn hAnya akAn MenInggalkAn tetesAn-teteSan pEnUh  ISAK
TAPI SUATU SAAT BETAPA LUHUR CINTAKU INI,
AKAN KAU CIUM HARUM SEMERBAK




Pancasila: Menyelami Kerinduan Bangsa

Merajut Nusantara: Rindu Pancasila

Peresensi    : Fathu Sururi
Judul Buku    : Merajut Nusantara: Rindu Pancasila
Penyunting    : Mulyawan Karim
Penerbit       : Kompas
Edisi            : Cetakan I, Oktober 2010
Tebal            : 278 halaman

Gaung kemerdekaan telah 65 tahun berlalu, sejak tegak berdiri sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia, Pancasila sebagai ideologi bangsa mengalami pasang surut. Orde baru yang memaksakan ideologi Pancasila sebagai asas tunggal, menjadikan pandangan terhadap Pancasila menjadi negatif.
Pasca reformasi 1998, Pancasila seperti anak hilang. Tak satu pun memperhatikan nasib Pancasila yang mulai tua renta ini. Para elite sibuk dengan dunia politik sehingga mengabaikan Pancasila, para koruptor terus menggerogoti bangsa dari dalam, rakyat pun lupa akibat kemiskinan, pengangguran yang tak pernah ada habis-habisnya.
Alhasil, Pancasila sebagai ideologi yang selayaknya dihayati dan diimplementasikan oleh segenap entitas bangsa, saat ini, dibaca pun tidak. Tentulah, sebagai warga negara yang sadar pentingnya nilai-nilai luhur Pancasila, mengembalikan Pancasila ke posisi semula adalah sebuah cita-cita luhur untuk tetap menjaga eksistensi Pancasila. Sebuah kerinduan akan hadirnya kembali Pancasila ke dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Ditengah kekerasan dan diskriminasi antar agama yang tiada ada habisnya. budaya korupsi, kolusi dan nepotisme yang merajalela. Persoalan rakyat mulai dari pendidikan, kesehatan, kemiskinan, pengangguran yang tak kunjung ada penyelesaian yang konkret. Maka, kumpulan esai-esai menyejukkan dari buku “Rindu Pancasila” akan menyegarkan kembali pemahaman Pancasila kita yang mulai memudar.
46 judul esai dipisah ke dalam 7 bab sesuai dengan tema masing-masing. Bab I hingga bab V berisi tulisan-tulisan yang mencoba menafsir ulang makna dan semangat sila demi sila yang ada dalam Pancasila serta mengaitkannya dengan dengan kondisi riil saat ini. Selanjutnya, bab VI berisi tulisan-tulisan buah perenungan dan pengamatan yang mencoba mengaitkan baragam impian, cita-cita, dan harapan bangsa. (hal. xi)
Pada bab terakhir, yakni bab VII sebenarnya tidak terkait langsung dengan persoalan Pancasila. Akan tetapi, lebih kepada refleksi dari polemik dalam masyarakat yang kebetulan muncul disekitar hari peringatan kemerdekaan. Kontroversi tersebut terkait gaya kepemimipinan nasional yang lemah dan tak berkarakter positif yang merupakan sumber persoalan mahabesar.
Buku yang diawali oleh tulisan Jakob Utama wartawan senior Kompas mengutarakan kegusarannya terhadap Pancasila dengan merefleksikan hari proklamasi yang sejatinya adalah ide besar, cita-cita agung dengan tujuan yang riil bangsa. Lanjutnya, Bangsa saat ini sedang menghadapi masalah, yakni kultur kekuasaan yang tidak bersih. Demokrasi masih dalam kerangka prosedural belum kepada substansial. Dan di tutup oleh tulisan M. Fajroel Rahman yang menekankan agar semua elemen masyarakat jangan sampai lelah dan letih untuk terus mencintai bangsa ini.
Buku ini layak dibaca ditengah pesimisme terhadap kebangkitan dari krisis multidimensi yang diakibatkan oleh mengendurnya nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

FATHU SURURI
Ketua DM Pesantren IAIN Sunan Ampel Surabaya 2010-2011
Santri PBSB (Program Beasiswa Santri Berprestasi) Kementrian Agama RI

JIHAD ALA REMAJA, PEMAKNAAN KONTEKSTUAL

Peaceful Jihad for Teens

Peresensi      : Fathu Sururi
Judul Buku    : Peaceful Jihad for Teens
Penulis          : Radinal Mukhtar Harahap
Penerbit        : Gramedia Pustaka Utama
Edisi             : Cetakan I, 2011
Tebal            : 197 halaman


Jihad merupakan suatu gerakan konfrontatif untuk melawan resistensi yang muncul untuk melemahkan bahkan menghancurkan Islam.
Sejarah Jihad
Dalam sejarah, Islam sebagai agama yang merupakan penyempurna dari millah Ibrahim dibawa oleh Nabi Muhammad sebagai sintesa dari kehidupan arab yang jahiliah. Kebobrokan moral bangsa Arab sungguh diluar etika kemanusiaan. Perempuan seperti komoditas, yang dapat ditukar, diasingkan, bahkan diwariskan. Anak perempuan dikubur hidup-hidup karena konsensus pada saat itu menyatakan bahwa anak perempuan tidak memiliki nilai sama sekali.
Islam datang membawa risalah meluruskan paradigma Arab yang amoral. Membawa pesan-pesan tauhid sebagai respon berhala, menghendaki egaliter antara kaum adam dan hawa, pesan kemanusiaan, persaudaran dan juga perdamaian.
Di Makkah, Jalan dakwah Nabi saw secara persuasif (non-fisik) ternyata menemui jalan buntu. Secara  brutal para pembenci Nabi saw menggunakan tindakan anarkis kepada Nabi dan para sahabat. Sehingga, timbullah ide untuk hijrah dari Makkah ke Madinah.
Respon masyarakat Madinah yang pada saat itu bernama Yatsrib sangat baik. dari sinilah Nabi saw dan masyarakat Madinah bahu membahu membangun peradaban Islam, yang dikenal negara Madinah. Kemakmuran dan terus bekembang pesatnya pengikut Nabi saw membuat iri para pembenci Nabi di Makkah, sehingga meledaklah perang Badar, Uhud, Khandak dan lain-lain.
Jihad dalam arti qital (peperangan fisik) ini populer saat itu. Jihad dalam konteks saat itu, bermakna mempertaruhkan jiwa untuk mempertahankan kebenaran dan menolong agama Allah saw  dalam medan peperangan. Seseorang yang berjihad diberi gelar mujahid, dan jika meninggal akan menyandang prediket mati syahid serta surga adalah tempat kembalinya.
Pemahaman Jihad Kontekstual
Jihad secara etimologi berarti bersungguh-sungguh. Ust Quraish Shihab-pakar tafsir-memaparkan bahwa arti jihad adalah usaha kita yang letih dan sulit. Selain makna usaha yang mengandung keletihan dan kesulitan, menurut Ust Quraish Shihab, jihad juga mengandung arti “kemampuan” yang menuntut sang mujahid mengeluarkan segala daya dan kemampuannya demi mencapai tujuan yang sesungguhnya, yaitu ridho Allah swt. Oleh karena itu, jihad dapat diartikan lebih luas sebagai pengorbanan kita untuk menjunjung tinggi agama Allah.
Pemaknaan jihad seperti uraian Ust Quraish Shihab ini akan membuka cakrawala paradigma kita mengenai varian jihad. Jadi, jihad tidak selalu identik dengan benturan fisik. Akan tetapi, ada jihad yang lebih besar dan utama, yakni jihad melawan hawa nafsu dan setan. Selain jihad melawan musuh (hal 42,51, 57).
Nafsu yang dimaksud adalah nafsu yang mengarahkan kepada keburukan. Nafsu yang pertama, nafsu amarah yaitu nafsu yang selalu mendorong kita kepada perbuatan yang jelek dan dilarang oleh agama. (hal 43). Yang kedua, nafsu lawwamah nafsu ini yang menghasut kepada kejahatan padahal kita tahu bahwa kita tidak boleh melakukannya. Dan terakhir, yang ketiga, nafsu mulhamah, nafsu ini menggiring kita kepada kedurhakaan, namun dilain sisi mendorong kita kepada ketakwaan. (hal 44-45)
Remaja “Diserang”
Jihad tentu bukanlah gerakan teror. Jihad memiliki dimensi transendental, yang merupakan misi suci untuk membawa agama Islam dalam kedamaian serta melawan musuh-musuh Islam nyata-nyata menyerang Islam. Sedangkan teror, adalah perbuatan yang meresahkan masyarakat pada umumnya, Islam maupun non-Islam. Jauh dari misi kedamaian. Gerakan terorisme di Indonesia identik dengan pemboman. Yang akibatnya, bukan hanya dirasakan oleh non-muslim akan tetapi umat Islam pun terkena imbasnya.
Para teroris, tidak pantang menyerah, selalu dan selalu akan melakukan tindakan teror di  Indonesia. Dengan jumlah personel yang terbatas, tentu harus ada perekrutan sebagai bentuk regenerasi.
Parahnya, lahan empuk para perekrut “mujahid” yang mencari  “pengantin” untuk melakukan teror adalah mereka yang masih remaja. Langkah strategis ini tentu bukan tanpa alasan, fase remaja merupakan fase penggalian jati diri, rasa ingin tahu yang dalam, selalu ingin mencoba-coba. Yang imbasnya, apabila salah melangkah, para “pencari bakat” “mujahid”, dengan dalih  kebahagian abadi yang melenakan akan melakukan penetrasi ke dalam jiwa para remaja.
Bukti konkretnya, kasus bom bunuh diri di hotel JW Marriot dan Hotel Ritz Carlton pada hari jum’at 17 juli 2009 ternyata pelakunya adalah remaja. kejadian tragis ini sungguh tak diduga sebelumnya, terutama dari teman-temannya di SMA Yadika 7, Dani Dwi Permana (pelaku) dikenal sebagai remaja yang baik dan juga sopan. (hal 14) Hal ini meyakinkan kita bahwa para remaja memang betul-betul butuh atensi yang tepat.
Oleh karena itu, harus ada tindakan preventif untuk mencegah wabah pemahaman sempit mengenai jihad ini kepada para remaja. Agar selain menyelamatkan para remaja, stigma dunia internasional kepada Islam pun berangsur-angsur dapat berubah.
Jihad ala Remaja
Sudah saatnya para remaja sebagai penerus roda bangsa. Mengalirkan setiap keringat demi kemajuan bangsa. Menjadi garda depan benteng terhadap setiap persoalan-persoalan yang nadinya adalah disintegrasi bangsa. Keutuhan bangsa Indonesia sedang diuji dengan tindakan-tindakan terorisme yang tidak bertanggung jawab.
Membumikan pemahaman jihad yang lebih kontekstual dan variatif adalah solusinya. Saudara Radinal sebagai penulis memunculkan pemahaman variasi jihad yang bisa dilakukan oleh remaja. Bahwa jihad itu dapat bermakna menjadi remaja muslim yang haus ilmu, berbakti kepada kedua orang tua, melakukan sedekah, dan selalu meningkatkan diri.
Selain itu sebagai benteng agar para perekrut teroris tidak menyelesup masuk. Ada lima terobosan yang ditawarkan oleh penulis untuk menghindari rayuan “para pencari bakat”. Yakni, menggunakan waktu untuk memperdalam ilmu agama selain belajar ilmu-ilmu umum lain. bersikap lebih terbuka, dengan sikap terbuka dan sharing terhadap apa yang dihadapi, akan mencerahkan permasalahan kita. Tidak mudah terpengaruh dan terbawa arus. Serta menemukan jati diri, menjadi remaja muslim yang beriman.
Sebagai penutup, buku yang ditulis oleh saudara Radinal Mukhtar Harahap ini layak dibaca ditengah posisi rawan yang dialamai para remaja. Terlebih kepada seluruh mahasiswa yang bernaung dalam program PBSB (Program Beasiswa Santri Berprestasi) Kementrian Agama RI agar tidak mudah terpengaruh dan goyah terhadap bujuk-rayu para perekrut teroris.

FATHU SURURI
Mahasiswa IAIN Sunan Ampel Surabaya, Semester VI
Santri PBSB (Program Beasiswa Santri Berprestasi) Kementrian Agama RI









NOVEL : APEL

Novel Best Seller

Mimpi adalah pacu untuk terus berjuang, tiada yang bisa mencegah kita bermimpi. tapi, apakah mimpi itu akan terwujud?, semua tergantung bagaimana kita menyikapi mimpi yang selama ini berkelebat di benak kita.
Perjalanan hidup manusia tidak berjalan statis, ada banyak rintangan dan tantangan yang perlu dihadapi, dan tantangan demi tantangan yang mengisi kehidupan kita adalah jalan untuk terus bertahan dan berkembang.
Sebuah master piece dari iwan setiawan yakni novel berjudul 9 Summers 10 Autumn dari Kota Apel ke the Big Apple, yang terinspirasi dari dari kisah nyata seorang penulisnya. Menunjukkan betapa kerja keras-dalam belajar-akan menghasilkan sesuatu yang jauh dari pada harapan kita.
Perjalanan yang berliku dari tokoh pertama seorang aku dalam novel ini, untuk terus belajar dan belajar demi menggapai cita-cita mulia, walau-dalam novel ini-dikemas dalam bentuk sederhana yakni hanya ingin memiliki kamar sendiri di rumahnya, dan terbebas dari kutukan menjadi sopir angkot turunan menggantikan ayahnya.
Berangkat dari keluarga yang tidak mampu, rumah yang berukuran kecil 6x7 untuk 7 orang anggota keluarga, masa-masa kecil yang tanpa mainan, menjadikan mimpi itu sederhana namum berimplikasi positif pada sikap yang luar biasa.
Sikap pantang menyerah dan terus belajar, menjadikan buku sebagai “mainan”, waktu belajar yang hanya bisa pada dini hari dengan aneka ketakutan yang melanda, memenuhi perjalanan Aku kecil. Sehingga kerja keras itu menjadikannya dari bangku sekolah dasar hingga sekolah menengah ke atas peringkat teratas selalu menjadi bagian dari perjalanan hidupnya.
Berlayar dan terus belayar melawan segenap ketakutan dan tidak ada kata diam menunggu keajaiban (hal 85) merupakan misi dari novel ini, sebuah pesan perjuangan agar dalam menjalani roda kehidupan tidak stagnan menunggu keajaiban itu datang dengan sendirinya, tapi harus dijemput dengan bekerja keras dan pantang menyerah.
Keajaiban yang merupakan buah kerja keras lahir dari seorang anak sopir angkot, dari kota batu malang menjadikannya sebagai direktur perusahaan di sebuah negara besar dan megah yakni New York City, capaian prestasi yang sungguh diluar nalar, sebuah impian yang sungguh tidak dinyana sebelumnya. Kenyataan ini menjadi motivasi bagi kita, dan menunjukkan bahwa tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini.



MEMPRESTASIKAN IDE


Sungguh sulit memang menjadikan ide itu sebuah prestasi, karena kadang sebuah ide itu tidak suitable untuk dinilai sebagai prestasi. Bukan itu yang ingin saya permasalahkan dan saya angkat kepermukaan. Ada satu hal yang ingin saya share, dan mungkin ini akan membantu temen-temen dalam “Memprestasikan Ide”.
Mari simak ceritaku, cerita yang terinspirasi dari salah seorang dosen. Mungkin dalam satu setengah jam mata kuliah itu, hal inilah yang kutulis TEBAL dibinderku. Hehe....rada malez nulis yang laen kale.....
A adalah seorang dosen, dosen yang dari penampilannya/perawakannya saja sudah kelihatan bahwa beliau bukanlah seorang yang santai (dalam arti : tipe pekerja keras, giat dan sejenisnya), pesimistis, pasif, de el el. Sudah dipastikan sebagai seorang dosen yang produktif, banyak karya yang beliau telah tulis, baik ilmiah maupun non ilmiah.
Dosen A berbagi cerita ketika kuliah sedang berlangsung, pengalaman beliau mengenai mengeluarkan ide dari sang mencetus ide yakni otak (boleh baca : hati). Ketika beliau mendapatkan satu ide segar yang beliau anggap brilian, baru hipotesa bahwa itu adalah ide yang fantastis. Maka, waktu bukanlah batasan menjeda jemari beliau untuk menekan tuts-tuts laptop, “Mengeluarkan Semua Isi” dalam otak.
Pengalaman tak terlupakan yang pernah beliau rasakan dalam “Memprestasikan Ide” adalah beliau pernah tidak TIDUR 2 HARI 2 MALAM untuk mengeluarkan ide itu dari tempat tertinggi dalam tubuh manusia (baca: otak), sungguh luar biasa, apa alasannya? Hanya karena tidak ingin ide yang beliau anggap brilian itu hilang, atau tidak lagi sesempurna sekarang apabila tidak ditulis sekarang juga, saat itu juga. Bukankah itu menakjubkan??? Bukankah itu sebuah penghormatan, penghargaan terhadap ide yang terlintas dalam alam pikiran kita???
Bukan siapa nama dosen tersebut yang perlu kita tanyakan atau perdebatkan atau diskusikan. Tapi betapa gigihnya beliau untuk menulis sebuah ide yang sudah tergambar jelas dalam angan. Tanpa pikir panjang fisik, waktu beliau pun diforsir demi “Sang Ide”. Agar tidak kehilangan, atau basi dimakan waktu.
Sudah pasti semua manusia, terlebih mahasiswa berprestasi (Santri PBSB), memiliki beragam bahkan ribuan ide segar fantastis, akan tetapi pertanyaan setelah itu adalah, apakah ide itu sudah keluar dari “sarangnya”?, apakah sang ide sudah lahir dari alam pikiran menuju “dunia nyata”?, sudahkah??? Kalau belum.
Marilah teman, dengan teknologi yang sudah ada, kemapanan teknologi yang sudah tersedia, jangan sampai kita sia-siakan waktu, hanya untuk “memelihara” ide-ide dalam benak kita, mari kita “alirkan” ide itu dari muaranya, kita “alirkan” dalam bentuk konkrit, yang dapat dirasakan orang lain.
Mari mengeluarkan ide, mari menulis, mari menghargai ide, mari saling memberikan manfaat kepada orang lain, dari sini eksistensi kita akan diakui, dari sinilah kita akan terkenang sepanjang masa, selama dunia ini belum hancur dimakan usia, selama dunia ini masih memberikan nafas kehidupan.
Selamat Berjuang, Selamat Menikmati Aktivitas Menulis 
Selamat Menikmati Maha Karya Anda   

Kalau bisa berlari, mengapa harus merangkak


Lucu bukan, kita yang sudah bisa berjalan, maupun berlari. Tapi masih saja merangkak bak bayi yang masih kecil. Ataupun pemuda yang sehat jasmani rohani bisa melakukan segala aktivitas layaknya orang dewasa tapi masih saja seperti bayi yang berumuran 10 bulan. Inilah produk mental...!, sebenarnya kita bisa melakukan hal yang besar dan menjadi orang besar, tapi kita merasa itu hal yang tidak mungkin dicapai, nonsen, menghayal dan lain sebagainya. Sehingga kita masih saja melakukan hal-hal yang kecil dan menjadi orang kecil padahal kita mempunyai potensi yang sangat besar.
Rasa malas, pesimis selalu mengerumuni otak dan pikiran kita sehingga kita tidak tahu apa potensi kita. Teman yang selalu mengajak kepada keburukan pun ikut serta dalam membangun ketidakpercayaan dan kemalasan itu. Tidak ada yang berubah keseharian, dan selalu bosan dengan apa yang sedang kita jalani, dan inginnya hanya rekreasi, menghilangkan kejenuhan dengan tidur, ps, shopping, ngerumpi dan hal-hal yang lain yang kurang bermanfaat. Selalu mempengaruhi teman dengan hal-hal yang kita anggap baik, padahal itu buruk dengan dalih refresing otak, hiburan, dll.
Terkadang sadar dan menyalahkan diri sendiri, kenapa harus malas? Mengapa pesimis? Tanpa mencari solusi terbaik, ataupun telah mencari solusi terbaik tapi tidak menjalankannya dengan sebaik mungkin. Mencoba untuk bangkit tapi hanya dalam angan-angan. Mencoba untuk giat belajar rajin, tapi masih terbaring diatas kasur. Ada rasa ingin berubah tapi hanya wacana tanpa praktik.
HANCURKAN RASA MALAS....!, mulai sekarang, saat ini berjanjilah kepada diri anda...!, SAYA HARUS BERUBAH...!, kuatkan itu dalam diri dan hati anda, patrikan dengan rasa kesungguhan, ikat dengan kencang dengan rasa sanggup, dan paku dengan kata bisa. Buatlah program yang sangat menunjang anda pada kegiatan yang sangat bermanfaat bagi anda. Katakan TIDAK bagi hal-hal yang dapat merusak program perubahan anda. TOLAK AJAKAN TEMAN untuk bermain, melakukan hal-hal yang dapat mengembalikan anda pada diri anda yang lama. Tapi tolaklah dengan kata yang baik.
Buatlah beberapa jam di akhir minggu untuk mengEVALUASI diri anda. Catat hal-hal yang perlu diperbaiki, dan kukuhkan hal-hal yang menurut anda sudah baik. ISITIRAHATKAN diri dan otak anda setiap hari beberapa menit tanpa kegiatan apapun. Dan renungkanlah kegiatan yang telah dilakukan.
LAKUKAN HAL YANG BERBEDA....!kalau kemarin anda hanya bermalas-malas, lakukan hal yang berlawanan dengan malas, kalau anda suka tidur pagi hari, jauhi kasur setelah bangun. Kalau anda malas membuka buku pelajaran, paksa diri anda untuk memegang buku itu dan mulai membacanya satu lembar saja dengan penuh konsentrasi dan pahamilah secara menyeluruh.










ABI

Saat-saat menyenangkan adalah ketika kita bisa berkumpul dengan keluarga secara lengkap, bercengkrama, dengan ayah, ibu, kakak atau adik. kebahagian seperti itu dambaan setiap keluarga, termasuk aku. Sudah lama aku tak bertemu orang tua seakan setiap detik aku mengunyah pil pahit. Tersendak ditenggorokan dan tak hilang-hilang hingga berjam-jam dan harus bersusah payah menelan ludah untuk menghilangkan rasa pahit yang melumuri seluruh mulut dan tenggorokanku. Hampir dua tahun aku lalui perantauan mencari ilmu tanpa ditemani sanak saudara satu pun.
Sebenarnya aku sudah terbiasa dengan hidup seperti ini. lumayan tiga tahun aku di pondok. Walaupun,  keadaanya berbeda. Kala di pondok, setiap bulan aku bisa melihat wajah orang tuaku. Karena jarak antara rumah dan pondok hanya empat jam. Wajah nan teduh, penuh harap dan kerja keras, Keriput di hampir diseluruh wajah. Tak kuasa mataku meneteskan air mata untuk semua pengorbanan orang tuaku. Disaat umi dan abi bekerja keras untuk masa depanku, aku tak bersungguh-sungguh belajar, banyak menghabiskan waktu sia-sia, pesan shalat berjama’ah dari abi pun seakan menjadi angin lalu.
Jarak yang tadinya bukan merupakan hambatan besar. Kini telah berubah disaat aku harus pergi kuliah ke surabaya.  Aku sudah tak mungkin lagi bertemu setiap bulan. Karena jarak yang begitu jauh. Dari tempatku kuliah saat ini sampai rumah sekitar dua hari. Sebenarnya bukan ini juga masalahku. Aku laki-laki, yang mempunyai sistem limbik yang kecil dibanding perempuan. Sistem limbik yang mengatur emosi seperti mencintai, membenci, jujur, gembira sedih dan lain-lain. Jadi, sangat tidak laki-laki banget apabila hanya karena ini aku cengeng. cukuplah aku berkangen ria melalui pesawat telpon. Itupun kalau kangen.
Masalah besarku muncul karena keadaan abi sakit. Disaat aku tidak bisa disisinya. Apalagi bukan sakit kelas biasa, batuk pilek dan lain-lain, maaf bukan maksudku meremehkan. Ini yang membuat hatiku remuk, Abi mengidap sakit komplikasi, segala penyakit berat dideritanya.  Diabetes, asam urat, darah tinggi, jantung, kolesterol, sesak nafas dan tak tahu lagi nama penyakitnya, ditambah lagi ada penyakit Hernia.
Penyakit ini yang sejatinya harus segera dioperasi, tapi ketika akan dioperasi, hal itu tidak segampang itu kata dokter, jalan operasi sangat beresiko, karena jantung abi lemah, dan ditakutkan ketika dioperasi jantung tidak kuat, akibatnya bisa fatal. Ditambah diabetes, bisa-bisa bekas operasi bedah yang dilakukan tidak bisa kering dan akan membusuk, ini juga akibatnya fatal. Tapi kata dokter penyakit ini harus segera dioperasi. Cerita umi, dua bulan lalu, abi sudah dibawa kerumah sakit untuk dioperasi. Akan tetapi tiga hari untuk menfitkan kondisi abi gagal total. Abi tidak bisa tidur sama sekali di rumah sakit. Pihak rumah sakit dianggap gak care oleh abi terhadap jenis kontrolnya. Hanya dikontrol sekali sehari, dan itupun, ujar abi, tak seperti sungguhan. Akhirnya dengan emosi, abi meminta pulang ke rumah. Ini juga yang membuat hatiku hancur. Kesembuhan yang seakan di depan mata hangus terbakar emosi. Harapanku untuk membayangkan abi segar bugar alias sembuh tertunda entah sampai kapan. Atas kejadian ini, aku juga tak bisa seratus persen menyalahkan emosi abi yang tak terkontrol.
Liburan, Pulang Kampung
Liburan semester tiga, aku pulang karena ingin membantu merawat abi yang sudah sakit dan umi juga sudah sangat kangen. Aku pun mempunyai satu kesempatan untuk mengantarkan abi ke pengobatan alternatif, ya kata abi mencari kesembuhan itu jalannya banyak, mungkin inilah jalan kesembuhan yang Allah berikan. Tiga jam setengah aku mengantarkan abi dari rumah ke kota gajah, tempat tabib yang dalam informasi, pengobatannya manjur. Sudah satu tahun setengah aku tidak menyetir mobil, tapi kemampuanku tak begitu berubah, hanya rasa kantukku yang amat  sangat menyiksa, mata seperti ada bandul pemberat 1 kilo. Memang itu kesalahanku, aku menonton laga Manchester United melawan klub kesayanganku Mashester City hingga larut malam. Apalagi ditambah, ada kebiasaan tidur pagi yang sudah tak terelakkan. Kebiasaa buruk yang sudah menjadi karakter, aku benci tidur pagi, tapi berat untuk dihilangkan. Waktu shubuh yang seharusnya baik untuk menghafal, kugunakan untuk tidur karena sering tidur larut malam. Huh, ya Allah ampuni aku, rubahlah prilaku burukku...amin.
Benar kata abi, harus jangan jangan sia-siakan waktu, karena waktu tidak akan pernah kembali, sekali salah melangkah tunggu penyesalannya. Aku sadar, aku tobat, tapi hal ini tidak bisa membantu membuatku tidak mengantuk.
Ingin rasanya meminta izin kepada abi untuk istirahat sejenak, akan tetapi aku sangat tak tega untuk mengganggu abi yang sedang istirahat. Minum dan minum banyak tidak membantu, mencubit-cubit bagian muka, menampar-nampar juga tidak begitu menolong, Aku ngantuk lagi, aku putus asa, aku ingin membangunkan abi, dengan pasrah aku memohon kepada Allah Sang Pencipta segalanya. Akhirnya dengan meneteskan air mata, aku berdoa dengan segenap harap kepada Sang Pencipta Allah SWT agar menghilangkan rasa kantukku, agar aku bisa sedikit membantu abi mencari kesembuhan. Alhamdulillah, sekejap, entah itu merupakan keajaiban do’a anak kepada orang tua atau apa, setelah berdo’a rasa kantuk seakan sirna begitu saja, aku pun bisa menyetir dengan fit kembali. Mungkin ini yang kudengar bahwa doa anak kepada orang tua maka tidak ada hijab (penghalang) apalagi disaat genting seperti ini. terima kasih ya Allah.
Dua hari kemudian
Alhamdullah, abi sudah lumayan. Kesehatannya membaik. Abi sudah bisa berjalan dan mau makan. Karena selama abi sakit, nafsu makan abi hilang,. mungkin karena darah tinggi sehingga semua makanan terasa pahit. badan tinggal belulang, dari delapan puluhan kini tinggal lima puluhan, dan hanya besar diperut Aku tak tega melihat badan abi dan wajah sakit tapi terus ditutupi dengan senyum apabila bertatap dengan wajahku. Mengisyaratkan “Ncep, abi gak papa, jangan terlalu khawatir, teruslah belajar”. Tetes air mataku pun tak bisa dicegah lagi, melihat kerja keras abi menantang ribuan penyakit yang menyerang.
Sayangnya, Abi begitu tak bisa didikte, aku umi dan keluarga yang lain menginginkan abi istrahat total, tapi masih aja bandel. Abi pergi ke konstruksi bangunan yang belum jadi, katanya mau ngecek karena memang itu adalah tanggung jawab abi. Kesehatan abi pun down kembali. Hernia yang sudah tidak begitu terasa sakitnya kambuh lagi. Abi hanya bisa berbaring di kasur. Shalat pun sudah tak kuasa berdiri. Semua anggota keluarga cemas, para tetangga berdatangan, untuk memberi support dan do’a agar abi lekas sembuh.
Kebetulan ada sahabat abi yang pernah memilik penyakit yang sama memberikan celana hernia. Agar sedikit membantu menghilangkan rasa nyeri. Tapi abi enggan memakainya dengan alasan tidak bisa kentut. Aku marah dalam hatiku“Abi......!!!”, dan semua anggota keluarga juga sudah hampir putus asa dengan kekeraskepalaan abi.
Back to campus
Hari libur semester telah usai. Saatnya kembali ke kampus. Aku tidak memesan tiket bus pulang. Karena memang ingin lebih lama di rumah untuk merawat abi. Ah, kebiasaan kampus juga, sekitar dua minggu masih belum ada tugas. Minggu pertama perkenalan. Baru minggu kedua pembagian kelompok. Jadi masih ada dua minggu untuk di rumah. Tapi abi marah besar ketika tahu aku belum membeli tiket untuk kembali ke kampus. “maneh teh generasi penerus, saha anu arek neruskeun perjuangan abi, lamun maneh bodo, daek, mahasiswa-mahasiswi nu teu pernah shalat nu neruskeun perjuangan abi, nu mikirna ngan duit jeng duit, teu mikirkeun masyarakat nu miskin ilmu agama, maneh teh tugasna belajar, teungeutkeun eta?”(kamu itu generasi penerus, siapa yang mau meneruskan perjuangan abi, kalau kamu bodoh, kamu mau, yang meneruskan itu mahasiswa-mahasiswi yang tidak pernah shalat, yang mikirnya Cuma uang dan uang, tidak memikirkan masyarakat yang miskin ilmu agama, kamu tugasnya belajar, perhatikan itu....!!!) dengan nada tinggi abi memarahiku, dalam hatiku berkata “ abi....jangan mikirin yang aneh-aneh, pikirin kesehatan abi dulu, muluk-muluk amat sih?”. Kesal hatiku dimarahi habis-habisan. Aku pun memberanikan diri menjawab pertanyaan yang memang seharusnya tidak perlu dijawab. “pikirin kesehatan abi dulu” dengan nada datar, terbata-bata dan rendah. Dengan cepat abi menyahut “ Encep...!!!” dengan nada sangat tinggi. Dan tidak ada kata setelah itu, aku menunduk menyesal karena telah lancang kepada abi. Tidak pernah abi menggunakan nada setinggi itu, mungkin darah tinggi abi naik, muka abi memerah,  seakan menahan rasa sakit yang sangat, nafas abi tersenggak-senggak tak beraturan, abi minta air, tenggorokannya gatal, tapi terlambat, abi keburu batuk keras, dan itu membuat hernia abi kambuh total, karena memang orang yang menderita penyakit hernia, harus diminimalisir batuk keras karena akan menambah sakitnya. abi sudah tak bisa menahan sakit, itu sangat kurasakan dari raut wajah abi, dan abi pun tak sadarkan diri dan jatuh ke lantai, beruntung umi sigap menangkap badan abi. Aku pun langsung membantu umi, dibantu pamanku ali, yang kebetulan sedang main ke rumah. Semua shock dengan kejadian ini. terlebih aku. Aku pun memarahi diriku sendiri,” Encep, kamu durhaka...durhaka...durhaka!!!” ucapan itu yang selalu kugaungkan dipikiranku. Baru sekali itu aku menjawab ucapan abi. Anggapanku, bahwa, aku sudah dewasa, seharusnya pertimbanganku didengarkan. “Ah, bodohnya aku, aku tidak mengira hal ini akan terjadi, maafkan aku abi, anakmu yang durhaka ini”. kata itu yang menghiasiku sambil menunggu siuman abi.
Seminggu kemudian
Aku sudah di surabaya, memulai perkuliahan dengan tanpa motivasi. Pikiranku kabur, hatiku kelabu. Yang kupikir hanya hal aneh-aneh yang  tidak sama sekali kuinginkan terjadi kepada abi. Ya allah, hilangkan pikiran buruk ini. yang bisa kulakukan hanya do’a. Semangat kuliah menurun drastis. Teman-temanku bertanya keadaan anehku akhir-akhir ini. hanya kujawab dengan ringan“masalah remaja”. Asumsi mereka aku tenggelam di lautan cinta. Ada yang ingin membantu dengan menyarankanku curhat dan saling sharing siapa tahu bisa membantu. Mohon maaf kawan aku berbohong. Hal itu agar teman-temanku tidak tenggelam dalam penderitaanku.
Untung dikelas aku selalu bisa tersenyum bahkan tertawa, sejenak bisa mengobati kegusaranku, teman-temanku memang great selalu ada saja yang bisa menghibur. Terima kasih kawan....
Hadi Teman baikku yang selalu ada dalam bahagia maupun sedihku mengetahui bahwa aku tidak benar-benar jatuh dalam kubangan cinta, dia bilang aku bohong, aku pun tidak bisa berkata apa-apa, karena memang dia benar, dia memandangku tajam dan berkata “tidak mau cerita tidak apa-apa, bukan masalah bagiku, tapi masalahmu tidak akan selesai dengan terus-menerus murung, ayah dan ibumu di rumah tidak akan rela apabila kerja kerasnya selama ini dibalas dengan murung dan murung”.
Aku pun tersadar, alangkah bodohnya aku, ”abi.....umi....maafkan encep..... “ mulai hari ini, detik ini, aku berjanji tidak akan menghancurkan diriku dengan bermalas-malasan dan terus memikirkan hal yang belum tentu terjadi, aku akan membuat abi bangga sebelum akhir hayat, agar abi bisa tersenyum lega dipenghujung hidupnya nanti. “semangat...semangat.....ayo belajar....kejar cita-citamu, jangan ada malas lagi, buat bangga abi umi.....encep kamu pasti bisa, Ya Allah mudahkan jalanku...Amin” aku berkata pada diriku setelah merenungi perkataan temanku. Terima kasih Hadi.


Menjaga emosi

“diam, sudah kubilang jangan katakan itu lagi padaku, aku sudah paham” kata-kata yang kudengar saat diskusi, sangat menyeramkan, Ketegangan terjadi, yang seharusnya tak perlu terjadi. Luapan emosi atau yang kita kenal dengan marah itu seperti tsunami yang menyapu daratan. marah memang terkadang susah untuk dikendalikan tapi bisa. sebebarnya, mengendalikan emosi mungkin tapi sulit.

Banyak faktor yang bisa membuat kita marah. Sebuah ketidaksesuan dengan apa yang kita harapkan bisa menimbulkan marah apabila kita tidak bisa menyikapinya dengan sudut pandang yang arif. Contoh kecil. Kita marah saat ada yang mengkritik kita habis-habisan padahal kita tahu ya memang ada yang salah, tapi keengganan untuk dikritik membuat kita marah besar. Kritik merupakan hal yang tidak sesuai dengan diri kita, karena memang kebanyakan dari kita menginginkan pujian dari kebanyakan orang.

Menurut kang Jalal dalam bukunya Tafsir kebahagiaan, memberikan empat langkah dalam mengendalikan kemarahan.

1.       Mengidentifikasi marah. Terkadang marah memang dari akar masalah yang sama.

2.       Menandai tanda-tanda munculnya kemarahan, agar tahu, kemarahan diri kita sudah benar-benar hilang atau sesungguhnya hanya terpendam sementara yang setiap saat bisa kembali meledak.

3.       Berwudhu, seperti yang dianjurkan rasulullah. Sebab, marah berasal dari setan dan setan tercipta dari api. Dan, api akan redup apabila disiram dengan air. Maka, marah akan berhenti jika orang yang bersangkutan berwudhu. Kemudian shalat, memohon pertolongan Allah agar kemarahan itu segera hilang.

4.       Mengubah persepsi terhadap pemicu kemarahan. Sebab, terkadang, sesuatu yang membuat kita marah belum tentu juga bisa membuat orang lain marah. Lalu, tak ada salahnya kemudian kita melihat pemicu itu dengan seperti sudut pandang orang lain itu, sehingga kemarahan tidak akan muncul.

Akibat kemarahan tidak ada yang bernilai positif. Dari kurangnya kontrol terhadap diri, kemarahan akan menimbulkan permusuhan. Bukan hanya itu, dengan marah kita juga bisa terjerumus dalam untaian kata-kata yang tak patut atau kotor, menghina seseorang dengan serta merta tanpa melihat perasaan orang yang dihina. Maka dari itu, sedini mungkin kita mengidentifikasi emosi, sehingga, kita juga bisa mengedalikan luapan emosi apabila datang. Mohon maaf bukan bermaksud menggurui, tapi mari kita saling nasihat menasihati dalam kebaikan sebagaimana surat al ‘Ashr.

Pilihan hidup bahagia adalah saling memaafkan.

Kabut cinta

Dipagi ini


Kabut gelap cinta masih menghalangi


Derap langkah tegak citaku keujung bumi


Membuktikan, betapa ini cobaan berat hati


Ingin akhiri........., dan melangkah bersama


Tapi, aku gusar jika terpeleset dipanggung asmara


Cita yang kubangun meleleh dengan debur cinta


yang menghempaskan citaku ke dalam luasnya penyesalan


masih terlalu pagi untuk cerita cinta


tapi, aku takut ini akhir pertemuan


saat jalan citaku membentang tanpa rintangan


seakan cintaku menghalang


jika diriku mengikuti ayunan nada cinta, apakah akan hanyut di dalamnya?

Cinta (1)

Aku sungguh cinta kamu

Cinta segala kebaikanmu yang kau tabur dalam kesulitanku

Cinta senyum manismu, kala sedihku

Cinta tawamu, untuk menghangatkan suasana dinginku

Cinta nasihatmu, dalam bimbangku

Cinta penghargaanmu, dimana cercaan mengiang ditelingaku

Cinta ketulusanmu, saat kemunafikan merajalela

Dan aku selalu mencintaimu 

Hanya untukmu

IDA

Pertemuan pertama
Engkau begitu cantik jelita
Langkahmu begitu menggoda
Senyum manismu memberikan pesona
Lirikanmu degupkan dada
lambaian tanganmu lemahkan daya
Meneror setiap debaran rasa
Kuhanya diam pandangi akhlakmu yang mulia
Tenangkan hati menelusuk jiwa
hanya tersenyum lemas tak kuasa atas raga

Rindu kelabu
Kau harus mengerti
Betapa malam begitu kelabu
tak terasa, karena mata indahmu memancar cahaya
pada malam di mana cinta memberikan cahaya
ku menerawang purnama yang berotasi pada sumbunya,
Bintang gemerlap pun membentuk sketsa wajahmu,
Mempesona sampai hati yang terdalam.

Cinta sendiri
Langkah hidup ini kuresapi,
setetes mutiara menghiasi pipi,
cinta ini sudah lama bersemayam dalam hati,
tapi belum juga menepi.
Kutunggu waktu, kujelajahi kesempatan, terbentang kesempitan.
Begitu banyak cobaan, yang coba menghalang
Sekian lama, menunggu dia, tak pernah dia mau percaya,
ketulusan cinta yang lama telah merana, menunggu sebuah jawaban pasti yang me-lega.
Keangkuhan diri, melawan semua ironi, menghemas jati diri, mengukuhkan kelemahan hati.
Mampukah kutetap menunggu, atas ketidakpastian dirimu, harapan yang mulai memudar, karena cinta yang telah gusar.
Ke arah jalan berliku, menelusuri peta cinta yang memilu, meninggalkan asa yang bertalu-talu, membuat irama menyebut namamu.
Sekali lagi kuterdiam, dalam rindu yang tak terperikan, mengharap kaupun datang, dalam jiwa yang mulai meradang.
Sililit cinta dalam hati, membuat erosi dalam diri
Iyakah itu cinta suci, atau nafsu syaithoni....
Yang kurasa adalah perih, kuhanya bisa menyapanya lirih....


Inilah pilihanku
Tak pernah kuselali, sebuah pilihan penuh konsekuensi
Sendiri dalam cobaan, pilihan yang telah kububuhkan dalam dalam
Hati tak pernah mengerti keadaan raga yang tak kuasa
Mengungkapkan cinta dalam realita
Sekali lagi kumerenung
Meresapi hembusan nafas dan angan yang membumbung   
Akankah Menunggu cinta...merona dengan sendirinya.......
Hanya waktu yang kurahap,
Menanti janji Nya mempersatukan bagian hati kusendiri................
Menerawang jauh ke awang-awang...
menerjang halangan menyambut harapan
tuk menemui rona-rona kehidupan, menggapai semua impian....mencapai cita-cita dambaan............

Renungan belajar gitar

Bismillah....Belajar, ya belajar adalah kewajiban kita sebagai umat Islam. Belajar tidak pandang bulu (bulu ayam yow...), tak berjenjang dan tanpa batas waktu. Sepanjang waktu kita harus belajar. Berbeda dengan sekolah, setelah S3 maka tidak ada lagi jenjang untuk meneruskan, alias mentok, totok, katok e...salah katoknya gak jadi jadi hapus sendiri yach...hihi.....wkwkwk

Manisnya belajar tidak tidak langsung bisa dirasakan. Tapi, suatu saat pasti akan terasa nikmat belajar, katanya. Maaf, penulis kan belum terlalu tahu manisnya belajar. Tapi, yah mungkin sudah terasa manisnya belajar tapi tidak merasa alias gak kerasa. Tapi, Mungkin.....hehe

Dari kontemplasi mendalam (soim bangetz dech),  Kalau harus disadari, kebutuhan belajar harus seperti kebutuhan makan, minum, dan BAB dan lain sebagainya. Sudah kita ketahui bersama makan, minum adalah kebutuhan primer kita, yang harus setiap harinya kita penuhi, kalau tidak bisa koit...alias maot, dalam bahasa makul filsafat hukum islam semester 5 atau dalam Maqosid Syari’ah disebut kebutuhan yang dhoruriyat.

Makan minimal 3x sehari, minum 1,8 liter, BAB yah 2 x sehari lah. Kalau spirit merasa butuh terhadap ini (kebutuhan makan de el el) bisa kita transformsikan kepada kebutuhan belajar, bagaimana jadinya yach???? Mungkin kita bisa jadi genius-genius...hehe, ada yang sudah membuktikan. Atau punya cara lain....??? atau analogi lain.....??? monggo berbagi cin....!!!

Yang pasti, dan yang ingin kuceritakan dalam note ini adalah aku sedang belajar gitar, dan dari nol....hehe, itung-itung rencana C, kalau tidak jadi mujtahid, lulus kuliah bisa jadi pengusaha musik gitar hahaha......(uhuk-uhuk...mangapnya kegedean), dikira pengamen yow??? gak la yau......S.Sy kok jadi pengamen.....gak necis bangetzzz, tapi keren juga, pengamen bergelar S.Sy...hehe....

Bukan itu  saja yang ingin aku bagi kepada temen-temen fans setia pembaca noteku...hoho, sori agak lebay ples penyakit sindrome aktris lagi lewat...ehek-ehek (ketawa model baru coy). Ternyata, belajar gitar tidak semudah yang kubayangkan. Menghafal beberapa kunci saja harus beberapa kali, ujung-ujung tangan kiri, mulai dari jari manis, tengah, dan telunjuk  pada melepuh semua, alias sakit dan merah-merah, dan ntarnya kata yang udah berpengalaman, bakal mati rasa tuh ujung jari-jarinya....huh...belajar gitar yang penuh perjuangan. Itu belum ditambah keruwetan genjrang-genjrengnya. Tiga bulan gak bisa-bisa haha...goblok bangettzzz ya gurunya...!!!, mana tambah pusing lagi......bodrek mas...hehe

Ternyata secara sadar, belajar gitar harus mengorbankan ujung jari tangan sampai mati rasa, itu Cuma hanya belajar gitar. Nah sekarang, Untuk masa depan, apa yang sudah aku korbankan yach....niatnya pengen jadi mujtahid,  baca sedikit kitab ushul fiqh udah ngantuk, mau jadi hakim dech, baca KHI, KUHP, KUHPer udah pusing kebanyakan pasal. Terus apa yang instan yach...mie instan kale....

Hah, belajar gitar butuh pengorbanan dan perjuangan......dan itu, bisa dibilang hanya gitar, maksudnya, yang manfaatnya hanya pada saat kumpul-kumpul or acara camping ngisi suasana biar gak dingin....kulkas jeng biar lebih dingin.......hehe...

Bagaimana dengan belajar untuk mengisi kehidupan, yang sepanjang nafas masih berhembus, jantung masih berdetak, terus diamalkan. Apa yang udah kukorbankan??? Apa yang udah kuperjuangankan??? Sejauhmana aku sudah melangkah??? Hah, semoga aku tersadar......semester tujuh dech sadar....Amin...
tobat nunggu smester 7, huh dasar ....!!! “cewekku berkata”

Gairah belajar (kontemplasi UAS)

Giat Belajar
Hemmmm, pasti masih segar diingatan kita semua, sebuah novel best seller, yang menggugah pembaca, dengan genre baru dalam dunia pernovelan. Mengangkat kehidupan pesantren yang sering dicibir sebagai bengkel para penjahat, lembaga pendidikan strata bawah, marjinal, tapi mampu menancapkan taringnya hingga ke benua amerika.

masterpiece yang terinspirasi dari sebuah perjalanan hidup yang tak mudah, berliku-liku, bahkan berlubang-lubang. Kisah yang mampu menangkat dunia pendidikan pesantren setara bahkan lebih dari pada pendidikan non-pesantren.

Aku ingat bagian dalam novel yang menceritakan bagaimana heboh dan gemparnya ketika pintu gerbang ujian telah dibuka. Pesantren seakan hidup 24 jam non-stop karena para santri sibuk mempersiapkan ujian untuk keesokan harinya, tak ada jam istirahat malam, Semua sudut pesantren terisi oleh para santri dan sentirnya,semua tersihir oleh tegangnya ujian pesantren.

Kemana-mana membawa buku pelajaran, catatan, untuk dihafal atau sekedar dibaca, atau malah hanya dibawa-bawa saja. Malam hari masjid juga penuh dengan para santri, yang tahajjud, belajar atau hanya penggembira saja. Euforia ujian begitu terasa hingga ke dalam sumsum tulang. Seakan memang ujian benar-benar menjadi ajang pembuktian, atau malah “hidup-mati” di pondok.

Dunia ujian yang seakan aku rindukan juga, ingin rasanya hinggap di antara hiruk-pikuk dunia ujian pesantren yang seakan sedang memakai efek kiamat itu. Semua habis-habisan, mati-matian demi untaian-untaian soal ujian. Jikalau aku.....!!!???!!!

Tapi memang sekarang kondisinya sudah berbeda, atmosfer kampus tidak bisa disamakan dengan pesantren. Paradigma mahasiwa tidak mengagungkan ujian sebagai perkara yang wajib diperjuangkan, hanya sebagai formalitas belaka. Skill, pengetahuan, dan kemampuan bukan dihasilkan dari meja kampus. Tapi, diperoleh sendiri, melalui jalan sendiri. Kampus hanya instrumen, transmitter, jembatan bagi para pemborong ilmu.
Jadi, tak usahlah sahirul lail hanya untuk UAS (Ujian Akhir Semester) di Kampus. Nikmatilah dunia mengarang, yang pasti tugas mengerjakan, absen penuh, UTS datang, UAS jawab sekenanya, nilai 3 sudah di kantong, atau minimal lulus. So, Uas?

Haha, kampus. dimana idealismeku. Belajar sekenanya, jerih payah semaunya, tapi hasil? ingin semaksimal-maksimalnya. Hem, Tak ada gairah membumbung untuk menguasai setiap lembar buku-buku kuliah.

Ujian akhir semester ini adalah ujian sebelum ujian semester depan yang memang benar-benar terakhir, setelah itu tak ada lagi ujian semester.

Rindukah???

So, what should you do?



CINTA EL

Ibn Qolam el Soer
“Apabila anda ingin dicintai orang yang spesial, maka buatlah diri anda spesial yang pantas dicintai orang-orang spesial”
(disarikan dari Mario Teguh)


SENDIRI....
Malam pukul 23.30 WIB
Duduk di pos satpam sambil mendengarkan lagu “Ijinkan Aku Mencintaimu” Iwan Fals menambah romantisnya malam yang sunyi ditemani bintang-bintang yang seakan mengedipkan cahayanya genit kepadaku. Aku pun tersipu malu dengan tingkah bintang yang genit menggodaku. Datang pula bulan purnama yang menjadi mentari malam hari, menambah eksotis malam ini.

Sengaja Aku duduk di pos satpam untuk menenangkan hatiku yang sedang tak biasa. Kupandangi langit nan jauh disana, teringat Zahra yang begitu asyik, konyol, bertingkah tomboy tapi tetap smart, dia begitu sempurna, karena ada kecantikan yang natural dari dirinya. Sahabat yang tak pernah akan kulupakan. Masa SMA yang sudah usai, kebahagiaan dalam memori.

Ditengah bayangan Zahra yang bergelayut di pelupuk mata, hadirlah bayangan yang baru dan bersinar terang menggantikan Zahra, putri cantik itu bernama Rahma. Rahma begitu menggoda hatiku bukan dari yang nampak darinya, akan tetapi usikkan itu datang karena kecantikan dalamnya yang membuat hatiku terpana. Akan kuceritakan betapa cantiknya ia dimataku. Bersabarlah.

Aura Cinta Pertama
Beginikah cinta??? Seribu pertanyaan hadir begitu saja tanpa jawaban. Kenapa harus Rahma???, Kenapa bukan Ami yang dinilai paling cantik mirip Yoo Rin dalam film My Girl itu? Kenapa baru sekarang??? Bukan sejak pertama kali Aku mengenalnya. Kenapa Rahma teman sekelasku?? Bukankah ada yang lebih di luar sana. Kenapa??? Kenapa ya Allah?.

‘prak, sruek...sruek’ binderku kubanting, kurobek-robek puisi-puisi untuknya, serta kumpulan surat cinta yang hanya bisa kusimpan tanpa bisa kuberikan kepadanya tak luput dari hantaman jari-jemariku yang sedang naik pitam. Sungguh naifnya diriku.

Kenapa cintaku harus berlabuh kepada Rahma yang begitu baik kepada semua orang,  yang begitu sopan santun. kenapa kasih sayangku bersandar kepada Rahma yang selalu menjaga lisan dari kata-kata kotor, kenapa harus dia yang selalu menyapa ramah, kenapa harus dia yang cerdas dan berkepribadian.

Bukankah aku orang yang sombong pada semua orang, bukankah aku orang yang sangat tidak sopan dan santun, bukankah aku yang tidak pernah absen berkata kotor dan jorok, bukankah aku yang  selalu menyapa tanpa adab, bukankah aku amoral,  bukankah aku super bodoh, bukankah aku yang tak punya pendirian alias selalu terbawa arus buruk.

Lantas, kenapa hatiku menggores namanya?, Kenapa ragaku Berdzikir namanya setiap detik, setiap hembusan nafas, setiap aliran darah, dentuman jantung?, kenapa?, kenapa cinta tak hadir ketika aku sudah merasa siap menerimanya? Kenapa cinta tak bernego dengan nalar-akalku untuk menentukan pilihan? Kenapa cinta begitu egois? Kenapa Ya Allah?

Bukankah al Qur’an an Nur 29 telah menggariskan bahwa putri cantik sepertinya, yang baik, ramah, sopan santun, cerdas, berkepribadian selayaknya mendapatkan pangeran yang gagah, yang juga baik hati, ramah, santun, berkepribadian dan juga cerdas. Bukan menerima cinta dariku yang berlumuran kekhilafan dan  dosa. Bukankah aku tidak pantas untuknya. Lantas, kenapa cintaku memilihnya? Tak pernah kutemukan jawaban pertanyaan-pertanyaan dibenakku itu.

Entahlah, aku semakin bingung. Benarkah cinta membawa kebahagiaan, buktinya ia memberi penderitaan padaku. cinta membuat kehidupanku semakin gusar, gundah, dan begitu berat untuk kujalani.

Di penghujung malam hendak menyelami alam mimpi, bayangan Rahma selalu menjelma. Merebahkan badan dihibur dengan lantunan lagu “setiap detik” dari Hijau Daun menemani lamunanku, lagu telah habis, tak kunjung aku terlelap di malam ini, sekali lagi kudengarkan lagu Cinnamon’s “Selamanya cinta”. Dan akhirnya malam suram ini kututup dengan menyimpan seribu gundah.

Keberanian dan Kenekatanku
Hari ini mata kuliah Hukum Perdata, pelajaran yang tak sama sekali kuberminat padanya. Entah kenapa, karena mendekati UAS (Ujian Akhir Semester) Dosen pengampu Hukum Perdata mewajibkan untuk mengumpulkan catatan yang telah diberikan, paling lambat lusa di kantor dosen. Hah, bencana buatku, tak selembar pun aku memiliki catatan mengenai pelajaran itu. Dasar memang aku pemalas, bodoh, dungu, tak faham urgensi menulis.

Hanya bisa menundukkan kepala, menghela nafas panjang, menerima nasib setelah dosen mengumumkan perintah itu. Untuk mengisi penat otakku, kucuri pandang wajah Rahma nan jelita penuh kedamaian, walau rambutku gondrong, tapi tak bisa menghalangi mataku untuk mencuri wajah cantik Rahma, dia memang begitu anggun, menarik hati, melumpuhkan jiwa setiap insan yang memandangnya. Kupastikan, gadis cantik cerdas sepertinya tentu telah siap dengan tugas yang diberikan dosen, karena tak sedetikpun raut wajahnya berubah, lisannya pun tak bergumam tanda tak setuju dengan tugas yang diberikan. senyum selalu menjadi background raut wajahnya, membarikan isyarat bahwa semua masalah harus diselesaikan dengan ketenangan jiwa dan tentu senyum terhadap masalah itu. Hah, hanya melihat wajahnya pun diriku telah terinspirasi. Apalagi kata-kata mutiara keluar dari lisannya yang indah.

 Yah, aku mendapatkan ide brilian. Alhadulillah, syukur kepada Allah. Ide ini membuatku mendapatkan 2 keuntungan besar sekaligus, siep sekali dayung dua tiga pulau terlampaui. jam kuliah telah habis. “Ra...Rahma, bo..leh...aku pin...jam, buku ee...... binder ee..........maksudku catatan perdata?” tanyaku kikuk sambil mengatur nafas dan detak jantung yang tak menentu.

Senyumnya merekah menawan. “ehem, tentu bolehlah, Insyaallah catatanku lengkap kok, wah, ternyata...ehem...ehem....El sadar nie..hehe” jawabnya ringan dan santai ditambah canda khas keakraban seorang sahabat yang sangat perhatian. “nie ambil....!” sautnya kembali. “El....nieee... ambil....!” mengharap respon dariku ketika pikiranku sedang melayang ke surga saking bahagianya. “oh, maaf, iya..i...ya, makasih ya Ma...., akan kujaga baik-baik bindermu” jawabku sekenanya walau agak lebay.

Surat Cinta Pertama
Malam pukul 21.00 WIB
Rencana awal yang sempurna, semoga disusul rencana-rencana membahagiakan lainnya. Malam ini harus kucapai dua cita-citaku. Kumulai dengan menyalin tugas terlebih dahulu. Kuambil Binder Rahma di tasku, binder yang cantik karena warna sampulnya pink, ada khat diwani berukir namanya di sampul depan sebelah kanan. Hem, ternyata tulisan arabnya pun cantik. Rahma sudah memberi tanda dengan kertas, menunjukkan bagian itu merupakan catatan perdata.

2 jam kemudian
Catatanku telah lengkap, lega rasanya telah mengerjakan tugas. Yah, tinggal rencana yang kedua. Rencana yang sangat berat. Yang akan menguras waktu dan pikiranku. Yaitu membuat surat cinta untuk Rahma, aku ingin menunjukkan cintaku untuknya, cinta yang sudah tertanam dihatiku, Cinta yang butuh respon positif agar tumbuh indah.

Lembar demi lembar telah kutulis, telah bertumpuk menjadi gunung sampah di kamar. Tapi, aku belum menemukan ramuan surat cinta yang pas untuk merepresentasikan kasih sayangku. Ada yang terlalu lebaylah, ada yang super simpel, terlalu kolot alias jadul, kurang romantislah, hah... ada saja kekuranganku. Sudah cukup aku membuang kertas demi kertas yang kubeli di fotocopy-an. Tinggallah kertas terakhir.
Melayang di pelupuk mata, bayangan Rahma di kelas tadi pagi, walau ada perintah tugas dari dosen, tak mengurangi 1 % pun senyum pada wajahnya, tak terlihat lisannya bergumam keberatan. Ketenangan darinya membuat diriku termenung sebentar. Kucoba untuk tersenyum dan membayangkan Rahma yang cantik itu, tak lama kemudian,  terlintas inspirasi isi surat cinta.

“teruntuk Rahma sang bidadari surga, permohonan maaf sebelumnya dari El yang lancang telah mengganggu waktu belajar Rahma, yang mungkin akan mengubah senyum yang telah terpasang manis di wajah Rahma. El hanya ingin jujur, kejujuran yang selama ini El tutup-tutupi, tapi dengan surat ini El ingin mengatakan kejujuran itu kepada Rahma. Rahma....sungguh El sangat menyayangi Rahma, bagaimana dengan rahma?” singkat, tapi Aku sangat yakin bahwa inilah kenyataan yang terjadi.

Kelas yang Menegangkan
Yah, selembar kertas merah muda telah diselipkan di binder pas pada catatan Hukum Perdata. Wajahku pucat pasi, tanganku bergetar ketika memberikan binder itu kepada Rahma. “kenapa El, El sakit...?” tanyanya. “ enggak kok Ma..” jawabku gugup. Binder itu langsung dimasukkan ke tas, karena ia memiliki buku catatan khusus untuk mata kuliah hadits. Kupastikan Ia akan membuka binder itu malam hari, karena keesokan harinya catatan hukum perdata itu harus dikumpul.

Keesokan harinya
Ada yang aneh dengan Rahma. Rahma bertingkah seperti biasa. Tidak ada perubahan mimik di wajahnya. Senyum manisnya tak bergeser dari wajahnya. Apa suratku jatuh kemudian tak terbaca olehnya. Ahh, tidak mungkin. Dia pun sempat menyapaku setelah keluar kelas seperti tidak terjadi apa-apa. Sama sekali seperti sebelum aku memberikan selembar surat itu. Sungguh aneh.....????!!!
Apakah ia membaca selembar pink-ku? Atau terselip? terbuang?, atau sebenarnya dia telah membacanya tapi  menolakku secara halus, tapi kenapa ia tak memberi jawaban pasti?, apa yang sebenarnya Rahma inginkan??? Apa yang sebenarnya ada dalam hati Rahma? Kenapa ia begitu?

Satu Semester kemudian
Selembar pink-ku tidak pernah ada jawaban, dan sikap Rahma kepadaku masih seperti sebelum surat itu menempel di bindernya. Aku pun mengerti.


“bukanlah seorang pecinta apabila ia meminta balasan atau timbal balik dari kekasihnya”
(al Hikam)

Anda terinspirasi?