SENDIRI....
Malam pukul 23.30 WIB
Duduk di pos satpam sambil mendengarkan lagu “Ijinkan Aku Mencintaimu” Iwan Fals menambah romantisnya malam yang sunyi ditemani bintang-bintang yang seakan mengedipkan cahayanya genit kepadaku. Aku pun tersipu malu dengan tingkah bintang yang genit menggodaku. Datang pula bulan purnama yang menjadi mentari malam hari, menambah eksotis malam ini.
Sengaja Aku duduk di pos satpam untuk menenangkan hatiku yang sedang tak biasa. Kupandangi langit nan jauh disana, teringat Zahra yang begitu asyik, konyol, bertingkah tomboy tapi tetap smart, dia begitu sempurna, karena ada kecantikan yang natural dari dirinya. Sahabat yang tak pernah akan kulupakan. Masa SMA yang sudah usai, kebahagiaan dalam memori.
Ditengah bayangan Zahra yang bergelayut di pelupuk mata, hadirlah bayangan yang baru dan bersinar terang menggantikan Zahra, putri cantik itu bernama Rahma. Rahma begitu menggoda hatiku bukan dari yang nampak darinya, akan tetapi usikkan itu datang karena kecantikan dalamnya yang membuat hatiku terpana. Akan kuceritakan betapa cantiknya ia dimataku. Bersabarlah.
Aura Cinta Pertama
Beginikah cinta??? Seribu pertanyaan hadir begitu saja tanpa jawaban. Kenapa harus Rahma???, Kenapa bukan Ami yang dinilai paling cantik mirip Yoo Rin dalam film My Girl itu? Kenapa baru sekarang??? Bukan sejak pertama kali Aku mengenalnya. Kenapa Rahma teman sekelasku?? Bukankah ada yang lebih di luar sana. Kenapa??? Kenapa ya Allah?.
‘prak, sruek...sruek’ binderku kubanting, kurobek-robek puisi-puisi untuknya, serta kumpulan surat cinta yang hanya bisa kusimpan tanpa bisa kuberikan kepadanya tak luput dari hantaman jari-jemariku yang sedang naik pitam. Sungguh naifnya diriku.
Kenapa cintaku harus berlabuh kepada Rahma yang begitu baik kepada semua orang, yang begitu sopan santun. kenapa kasih sayangku bersandar kepada Rahma yang selalu menjaga lisan dari kata-kata kotor, kenapa harus dia yang selalu menyapa ramah, kenapa harus dia yang cerdas dan berkepribadian.
Bukankah aku orang yang sombong pada semua orang, bukankah aku orang yang sangat tidak sopan dan santun, bukankah aku yang tidak pernah absen berkata kotor dan jorok, bukankah aku yang selalu menyapa tanpa adab, bukankah aku amoral, bukankah aku super bodoh, bukankah aku yang tak punya pendirian alias selalu terbawa arus buruk.
Lantas, kenapa hatiku menggores namanya?, Kenapa ragaku Berdzikir namanya setiap detik, setiap hembusan nafas, setiap aliran darah, dentuman jantung?, kenapa?, kenapa cinta tak hadir ketika aku sudah merasa siap menerimanya? Kenapa cinta tak bernego dengan nalar-akalku untuk menentukan pilihan? Kenapa cinta begitu egois? Kenapa Ya Allah?
Bukankah al Qur’an an Nur 29 telah menggariskan bahwa putri cantik sepertinya, yang baik, ramah, sopan santun, cerdas, berkepribadian selayaknya mendapatkan pangeran yang gagah, yang juga baik hati, ramah, santun, berkepribadian dan juga cerdas. Bukan menerima cinta dariku yang berlumuran kekhilafan dan dosa. Bukankah aku tidak pantas untuknya. Lantas, kenapa cintaku memilihnya? Tak pernah kutemukan jawaban pertanyaan-pertanyaan dibenakku itu.
Entahlah, aku semakin bingung. Benarkah cinta membawa kebahagiaan, buktinya ia memberi penderitaan padaku. cinta membuat kehidupanku semakin gusar, gundah, dan begitu berat untuk kujalani.
Di penghujung malam hendak menyelami alam mimpi, bayangan Rahma selalu menjelma. Merebahkan badan dihibur dengan lantunan lagu “setiap detik” dari Hijau Daun menemani lamunanku, lagu telah habis, tak kunjung aku terlelap di malam ini, sekali lagi kudengarkan lagu Cinnamon’s “Selamanya cinta”. Dan akhirnya malam suram ini kututup dengan menyimpan seribu gundah.
Keberanian dan Kenekatanku
Hari ini mata kuliah Hukum Perdata, pelajaran yang tak sama sekali kuberminat padanya. Entah kenapa, karena mendekati UAS (Ujian Akhir Semester) Dosen pengampu Hukum Perdata mewajibkan untuk mengumpulkan catatan yang telah diberikan, paling lambat lusa di kantor dosen. Hah, bencana buatku, tak selembar pun aku memiliki catatan mengenai pelajaran itu. Dasar memang aku pemalas, bodoh, dungu, tak faham urgensi menulis.
Hanya bisa menundukkan kepala, menghela nafas panjang, menerima nasib setelah dosen mengumumkan perintah itu. Untuk mengisi penat otakku, kucuri pandang wajah Rahma nan jelita penuh kedamaian, walau rambutku gondrong, tapi tak bisa menghalangi mataku untuk mencuri wajah cantik Rahma, dia memang begitu anggun, menarik hati, melumpuhkan jiwa setiap insan yang memandangnya. Kupastikan, gadis cantik cerdas sepertinya tentu telah siap dengan tugas yang diberikan dosen, karena tak sedetikpun raut wajahnya berubah, lisannya pun tak bergumam tanda tak setuju dengan tugas yang diberikan. senyum selalu menjadi background raut wajahnya, membarikan isyarat bahwa semua masalah harus diselesaikan dengan ketenangan jiwa dan tentu senyum terhadap masalah itu. Hah, hanya melihat wajahnya pun diriku telah terinspirasi. Apalagi kata-kata mutiara keluar dari lisannya yang indah.
Yah, aku mendapatkan ide brilian. Alhadulillah, syukur kepada Allah. Ide ini membuatku mendapatkan 2 keuntungan besar sekaligus, siep sekali dayung dua tiga pulau terlampaui. jam kuliah telah habis. “Ra...Rahma, bo..leh...aku pin...jam, buku ee...... binder ee..........maksudku catatan perdata?” tanyaku kikuk sambil mengatur nafas dan detak jantung yang tak menentu.
Senyumnya merekah menawan. “ehem, tentu bolehlah, Insyaallah catatanku lengkap kok, wah, ternyata...ehem...ehem....El sadar nie..hehe” jawabnya ringan dan santai ditambah canda khas keakraban seorang sahabat yang sangat perhatian. “nie ambil....!” sautnya kembali. “El....nieee... ambil....!” mengharap respon dariku ketika pikiranku sedang melayang ke surga saking bahagianya. “oh, maaf, iya..i...ya, makasih ya Ma...., akan kujaga baik-baik bindermu” jawabku sekenanya walau agak lebay.
Surat Cinta Pertama
Malam pukul 21.00 WIB
Rencana awal yang sempurna, semoga disusul rencana-rencana membahagiakan lainnya. Malam ini harus kucapai dua cita-citaku. Kumulai dengan menyalin tugas terlebih dahulu. Kuambil Binder Rahma di tasku, binder yang cantik karena warna sampulnya pink, ada khat diwani berukir namanya di sampul depan sebelah kanan. Hem, ternyata tulisan arabnya pun cantik. Rahma sudah memberi tanda dengan kertas, menunjukkan bagian itu merupakan catatan perdata.
2 jam kemudian
Catatanku telah lengkap, lega rasanya telah mengerjakan tugas. Yah, tinggal rencana yang kedua. Rencana yang sangat berat. Yang akan menguras waktu dan pikiranku. Yaitu membuat surat cinta untuk Rahma, aku ingin menunjukkan cintaku untuknya, cinta yang sudah tertanam dihatiku, Cinta yang butuh respon positif agar tumbuh indah.
Lembar demi lembar telah kutulis, telah bertumpuk menjadi gunung sampah di kamar. Tapi, aku belum menemukan ramuan surat cinta yang pas untuk merepresentasikan kasih sayangku. Ada yang terlalu lebaylah, ada yang super simpel, terlalu kolot alias jadul, kurang romantislah, hah... ada saja kekuranganku. Sudah cukup aku membuang kertas demi kertas yang kubeli di fotocopy-an. Tinggallah kertas terakhir.
Melayang di pelupuk mata, bayangan Rahma di kelas tadi pagi, walau ada perintah tugas dari dosen, tak mengurangi 1 % pun senyum pada wajahnya, tak terlihat lisannya bergumam keberatan. Ketenangan darinya membuat diriku termenung sebentar. Kucoba untuk tersenyum dan membayangkan Rahma yang cantik itu, tak lama kemudian, terlintas inspirasi isi surat cinta.
“teruntuk Rahma sang bidadari surga, permohonan maaf sebelumnya dari El yang lancang telah mengganggu waktu belajar Rahma, yang mungkin akan mengubah senyum yang telah terpasang manis di wajah Rahma. El hanya ingin jujur, kejujuran yang selama ini El tutup-tutupi, tapi dengan surat ini El ingin mengatakan kejujuran itu kepada Rahma. Rahma....sungguh El sangat menyayangi Rahma, bagaimana dengan rahma?” singkat, tapi Aku sangat yakin bahwa inilah kenyataan yang terjadi.
Kelas yang Menegangkan
Yah, selembar kertas merah muda telah diselipkan di binder pas pada catatan Hukum Perdata. Wajahku pucat pasi, tanganku bergetar ketika memberikan binder itu kepada Rahma. “kenapa El, El sakit...?” tanyanya. “ enggak kok Ma..” jawabku gugup. Binder itu langsung dimasukkan ke tas, karena ia memiliki buku catatan khusus untuk mata kuliah hadits. Kupastikan Ia akan membuka binder itu malam hari, karena keesokan harinya catatan hukum perdata itu harus dikumpul.
Keesokan harinya
Ada yang aneh dengan Rahma. Rahma bertingkah seperti biasa. Tidak ada perubahan mimik di wajahnya. Senyum manisnya tak bergeser dari wajahnya. Apa suratku jatuh kemudian tak terbaca olehnya. Ahh, tidak mungkin. Dia pun sempat menyapaku setelah keluar kelas seperti tidak terjadi apa-apa. Sama sekali seperti sebelum aku memberikan selembar surat itu. Sungguh aneh.....????!!!
Apakah ia membaca selembar pink-ku? Atau terselip? terbuang?, atau sebenarnya dia telah membacanya tapi menolakku secara halus, tapi kenapa ia tak memberi jawaban pasti?, apa yang sebenarnya Rahma inginkan??? Apa yang sebenarnya ada dalam hati Rahma? Kenapa ia begitu?
Satu Semester kemudian
Selembar pink-ku tidak pernah ada jawaban, dan sikap Rahma kepadaku masih seperti sebelum surat itu menempel di bindernya. Aku pun mengerti.
“bukanlah seorang pecinta apabila ia meminta balasan atau timbal balik dari kekasihnya”
(al Hikam)