![]() |
| Peaceful Jihad for Teens |
Peresensi : Fathu Sururi
Judul Buku : Peaceful Jihad for Teens
Penulis : Radinal Mukhtar Harahap
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Edisi : Cetakan I, 2011
Tebal : 197 halaman
Jihad merupakan suatu gerakan konfrontatif untuk melawan resistensi yang muncul untuk melemahkan bahkan menghancurkan Islam.
Sejarah Jihad
Dalam sejarah, Islam sebagai agama yang merupakan penyempurna dari millah Ibrahim dibawa oleh Nabi Muhammad sebagai sintesa dari kehidupan arab yang jahiliah. Kebobrokan moral bangsa Arab sungguh diluar etika kemanusiaan. Perempuan seperti komoditas, yang dapat ditukar, diasingkan, bahkan diwariskan. Anak perempuan dikubur hidup-hidup karena konsensus pada saat itu menyatakan bahwa anak perempuan tidak memiliki nilai sama sekali.
Islam datang membawa risalah meluruskan paradigma Arab yang amoral. Membawa pesan-pesan tauhid sebagai respon berhala, menghendaki egaliter antara kaum adam dan hawa, pesan kemanusiaan, persaudaran dan juga perdamaian.
Di Makkah, Jalan dakwah Nabi saw secara persuasif (non-fisik) ternyata menemui jalan buntu. Secara brutal para pembenci Nabi saw menggunakan tindakan anarkis kepada Nabi dan para sahabat. Sehingga, timbullah ide untuk hijrah dari Makkah ke Madinah.
Respon masyarakat Madinah yang pada saat itu bernama Yatsrib sangat baik. dari sinilah Nabi saw dan masyarakat Madinah bahu membahu membangun peradaban Islam, yang dikenal negara Madinah. Kemakmuran dan terus bekembang pesatnya pengikut Nabi saw membuat iri para pembenci Nabi di Makkah, sehingga meledaklah perang Badar, Uhud, Khandak dan lain-lain.
Jihad dalam arti qital (peperangan fisik) ini populer saat itu. Jihad dalam konteks saat itu, bermakna mempertaruhkan jiwa untuk mempertahankan kebenaran dan menolong agama Allah saw dalam medan peperangan. Seseorang yang berjihad diberi gelar mujahid, dan jika meninggal akan menyandang prediket mati syahid serta surga adalah tempat kembalinya.
Pemahaman Jihad Kontekstual
Jihad secara etimologi berarti bersungguh-sungguh. Ust Quraish Shihab-pakar tafsir-memaparkan bahwa arti jihad adalah usaha kita yang letih dan sulit. Selain makna usaha yang mengandung keletihan dan kesulitan, menurut Ust Quraish Shihab, jihad juga mengandung arti “kemampuan” yang menuntut sang mujahid mengeluarkan segala daya dan kemampuannya demi mencapai tujuan yang sesungguhnya, yaitu ridho Allah swt. Oleh karena itu, jihad dapat diartikan lebih luas sebagai pengorbanan kita untuk menjunjung tinggi agama Allah.
Pemaknaan jihad seperti uraian Ust Quraish Shihab ini akan membuka cakrawala paradigma kita mengenai varian jihad. Jadi, jihad tidak selalu identik dengan benturan fisik. Akan tetapi, ada jihad yang lebih besar dan utama, yakni jihad melawan hawa nafsu dan setan. Selain jihad melawan musuh (hal 42,51, 57).
Nafsu yang dimaksud adalah nafsu yang mengarahkan kepada keburukan. Nafsu yang pertama, nafsu amarah yaitu nafsu yang selalu mendorong kita kepada perbuatan yang jelek dan dilarang oleh agama. (hal 43). Yang kedua, nafsu lawwamah nafsu ini yang menghasut kepada kejahatan padahal kita tahu bahwa kita tidak boleh melakukannya. Dan terakhir, yang ketiga, nafsu mulhamah, nafsu ini menggiring kita kepada kedurhakaan, namun dilain sisi mendorong kita kepada ketakwaan. (hal 44-45)
Remaja “Diserang”
Jihad tentu bukanlah gerakan teror. Jihad memiliki dimensi transendental, yang merupakan misi suci untuk membawa agama Islam dalam kedamaian serta melawan musuh-musuh Islam nyata-nyata menyerang Islam. Sedangkan teror, adalah perbuatan yang meresahkan masyarakat pada umumnya, Islam maupun non-Islam. Jauh dari misi kedamaian. Gerakan terorisme di Indonesia identik dengan pemboman. Yang akibatnya, bukan hanya dirasakan oleh non-muslim akan tetapi umat Islam pun terkena imbasnya.
Para teroris, tidak pantang menyerah, selalu dan selalu akan melakukan tindakan teror di Indonesia. Dengan jumlah personel yang terbatas, tentu harus ada perekrutan sebagai bentuk regenerasi.
Parahnya, lahan empuk para perekrut “mujahid” yang mencari “pengantin” untuk melakukan teror adalah mereka yang masih remaja. Langkah strategis ini tentu bukan tanpa alasan, fase remaja merupakan fase penggalian jati diri, rasa ingin tahu yang dalam, selalu ingin mencoba-coba. Yang imbasnya, apabila salah melangkah, para “pencari bakat” “mujahid”, dengan dalih kebahagian abadi yang melenakan akan melakukan penetrasi ke dalam jiwa para remaja.
Bukti konkretnya, kasus bom bunuh diri di hotel JW Marriot dan Hotel Ritz Carlton pada hari jum’at 17 juli 2009 ternyata pelakunya adalah remaja. kejadian tragis ini sungguh tak diduga sebelumnya, terutama dari teman-temannya di SMA Yadika 7, Dani Dwi Permana (pelaku) dikenal sebagai remaja yang baik dan juga sopan. (hal 14) Hal ini meyakinkan kita bahwa para remaja memang betul-betul butuh atensi yang tepat.
Oleh karena itu, harus ada tindakan preventif untuk mencegah wabah pemahaman sempit mengenai jihad ini kepada para remaja. Agar selain menyelamatkan para remaja, stigma dunia internasional kepada Islam pun berangsur-angsur dapat berubah.
Jihad ala Remaja
Sudah saatnya para remaja sebagai penerus roda bangsa. Mengalirkan setiap keringat demi kemajuan bangsa. Menjadi garda depan benteng terhadap setiap persoalan-persoalan yang nadinya adalah disintegrasi bangsa. Keutuhan bangsa Indonesia sedang diuji dengan tindakan-tindakan terorisme yang tidak bertanggung jawab.
Membumikan pemahaman jihad yang lebih kontekstual dan variatif adalah solusinya. Saudara Radinal sebagai penulis memunculkan pemahaman variasi jihad yang bisa dilakukan oleh remaja. Bahwa jihad itu dapat bermakna menjadi remaja muslim yang haus ilmu, berbakti kepada kedua orang tua, melakukan sedekah, dan selalu meningkatkan diri.
Selain itu sebagai benteng agar para perekrut teroris tidak menyelesup masuk. Ada lima terobosan yang ditawarkan oleh penulis untuk menghindari rayuan “para pencari bakat”. Yakni, menggunakan waktu untuk memperdalam ilmu agama selain belajar ilmu-ilmu umum lain. bersikap lebih terbuka, dengan sikap terbuka dan sharing terhadap apa yang dihadapi, akan mencerahkan permasalahan kita. Tidak mudah terpengaruh dan terbawa arus. Serta menemukan jati diri, menjadi remaja muslim yang beriman.
Sebagai penutup, buku yang ditulis oleh saudara Radinal Mukhtar Harahap ini layak dibaca ditengah posisi rawan yang dialamai para remaja. Terlebih kepada seluruh mahasiswa yang bernaung dalam program PBSB (Program Beasiswa Santri Berprestasi) Kementrian Agama RI agar tidak mudah terpengaruh dan goyah terhadap bujuk-rayu para perekrut teroris.
FATHU SURURI
Mahasiswa IAIN Sunan Ampel Surabaya, Semester VI
Santri PBSB (Program Beasiswa Santri Berprestasi) Kementrian Agama RI







Tidak ada komentar:
Posting Komentar