Indonesian Blogger

Banner iskaruji dot com

Jumat, 30 Desember 2011

Menjaga emosi

“diam, sudah kubilang jangan katakan itu lagi padaku, aku sudah paham” kata-kata yang kudengar saat diskusi, sangat menyeramkan, Ketegangan terjadi, yang seharusnya tak perlu terjadi. Luapan emosi atau yang kita kenal dengan marah itu seperti tsunami yang menyapu daratan. marah memang terkadang susah untuk dikendalikan tapi bisa. sebebarnya, mengendalikan emosi mungkin tapi sulit.

Banyak faktor yang bisa membuat kita marah. Sebuah ketidaksesuan dengan apa yang kita harapkan bisa menimbulkan marah apabila kita tidak bisa menyikapinya dengan sudut pandang yang arif. Contoh kecil. Kita marah saat ada yang mengkritik kita habis-habisan padahal kita tahu ya memang ada yang salah, tapi keengganan untuk dikritik membuat kita marah besar. Kritik merupakan hal yang tidak sesuai dengan diri kita, karena memang kebanyakan dari kita menginginkan pujian dari kebanyakan orang.

Menurut kang Jalal dalam bukunya Tafsir kebahagiaan, memberikan empat langkah dalam mengendalikan kemarahan.

1.       Mengidentifikasi marah. Terkadang marah memang dari akar masalah yang sama.

2.       Menandai tanda-tanda munculnya kemarahan, agar tahu, kemarahan diri kita sudah benar-benar hilang atau sesungguhnya hanya terpendam sementara yang setiap saat bisa kembali meledak.

3.       Berwudhu, seperti yang dianjurkan rasulullah. Sebab, marah berasal dari setan dan setan tercipta dari api. Dan, api akan redup apabila disiram dengan air. Maka, marah akan berhenti jika orang yang bersangkutan berwudhu. Kemudian shalat, memohon pertolongan Allah agar kemarahan itu segera hilang.

4.       Mengubah persepsi terhadap pemicu kemarahan. Sebab, terkadang, sesuatu yang membuat kita marah belum tentu juga bisa membuat orang lain marah. Lalu, tak ada salahnya kemudian kita melihat pemicu itu dengan seperti sudut pandang orang lain itu, sehingga kemarahan tidak akan muncul.

Akibat kemarahan tidak ada yang bernilai positif. Dari kurangnya kontrol terhadap diri, kemarahan akan menimbulkan permusuhan. Bukan hanya itu, dengan marah kita juga bisa terjerumus dalam untaian kata-kata yang tak patut atau kotor, menghina seseorang dengan serta merta tanpa melihat perasaan orang yang dihina. Maka dari itu, sedini mungkin kita mengidentifikasi emosi, sehingga, kita juga bisa mengedalikan luapan emosi apabila datang. Mohon maaf bukan bermaksud menggurui, tapi mari kita saling nasihat menasihati dalam kebaikan sebagaimana surat al ‘Ashr.

Pilihan hidup bahagia adalah saling memaafkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Anda terinspirasi?