Saat-saat menyenangkan adalah ketika kita bisa berkumpul dengan keluarga secara lengkap, bercengkrama, dengan ayah, ibu, kakak atau adik. kebahagian seperti itu dambaan setiap keluarga, termasuk aku. Sudah lama aku tak bertemu orang tua seakan setiap detik aku mengunyah pil pahit. Tersendak ditenggorokan dan tak hilang-hilang hingga berjam-jam dan harus bersusah payah menelan ludah untuk menghilangkan rasa pahit yang melumuri seluruh mulut dan tenggorokanku. Hampir dua tahun aku lalui perantauan mencari ilmu tanpa ditemani sanak saudara satu pun.
Sebenarnya aku sudah terbiasa dengan hidup seperti ini. lumayan tiga tahun aku di pondok. Walaupun, keadaanya berbeda. Kala di pondok, setiap bulan aku bisa melihat wajah orang tuaku. Karena jarak antara rumah dan pondok hanya empat jam. Wajah nan teduh, penuh harap dan kerja keras, Keriput di hampir diseluruh wajah. Tak kuasa mataku meneteskan air mata untuk semua pengorbanan orang tuaku. Disaat umi dan abi bekerja keras untuk masa depanku, aku tak bersungguh-sungguh belajar, banyak menghabiskan waktu sia-sia, pesan shalat berjama’ah dari abi pun seakan menjadi angin lalu.
Jarak yang tadinya bukan merupakan hambatan besar. Kini telah berubah disaat aku harus pergi kuliah ke surabaya. Aku sudah tak mungkin lagi bertemu setiap bulan. Karena jarak yang begitu jauh. Dari tempatku kuliah saat ini sampai rumah sekitar dua hari. Sebenarnya bukan ini juga masalahku. Aku laki-laki, yang mempunyai sistem limbik yang kecil dibanding perempuan. Sistem limbik yang mengatur emosi seperti mencintai, membenci, jujur, gembira sedih dan lain-lain. Jadi, sangat tidak laki-laki banget apabila hanya karena ini aku cengeng. cukuplah aku berkangen ria melalui pesawat telpon. Itupun kalau kangen.
Masalah besarku muncul karena keadaan abi sakit. Disaat aku tidak bisa disisinya. Apalagi bukan sakit kelas biasa, batuk pilek dan lain-lain, maaf bukan maksudku meremehkan. Ini yang membuat hatiku remuk, Abi mengidap sakit komplikasi, segala penyakit berat dideritanya. Diabetes, asam urat, darah tinggi, jantung, kolesterol, sesak nafas dan tak tahu lagi nama penyakitnya, ditambah lagi ada penyakit Hernia.
Penyakit ini yang sejatinya harus segera dioperasi, tapi ketika akan dioperasi, hal itu tidak segampang itu kata dokter, jalan operasi sangat beresiko, karena jantung abi lemah, dan ditakutkan ketika dioperasi jantung tidak kuat, akibatnya bisa fatal. Ditambah diabetes, bisa-bisa bekas operasi bedah yang dilakukan tidak bisa kering dan akan membusuk, ini juga akibatnya fatal. Tapi kata dokter penyakit ini harus segera dioperasi. Cerita umi, dua bulan lalu, abi sudah dibawa kerumah sakit untuk dioperasi. Akan tetapi tiga hari untuk menfitkan kondisi abi gagal total. Abi tidak bisa tidur sama sekali di rumah sakit. Pihak rumah sakit dianggap gak care oleh abi terhadap jenis kontrolnya. Hanya dikontrol sekali sehari, dan itupun, ujar abi, tak seperti sungguhan. Akhirnya dengan emosi, abi meminta pulang ke rumah. Ini juga yang membuat hatiku hancur. Kesembuhan yang seakan di depan mata hangus terbakar emosi. Harapanku untuk membayangkan abi segar bugar alias sembuh tertunda entah sampai kapan. Atas kejadian ini, aku juga tak bisa seratus persen menyalahkan emosi abi yang tak terkontrol.
Liburan, Pulang Kampung
Liburan semester tiga, aku pulang karena ingin membantu merawat abi yang sudah sakit dan umi juga sudah sangat kangen. Aku pun mempunyai satu kesempatan untuk mengantarkan abi ke pengobatan alternatif, ya kata abi mencari kesembuhan itu jalannya banyak, mungkin inilah jalan kesembuhan yang Allah berikan. Tiga jam setengah aku mengantarkan abi dari rumah ke kota gajah, tempat tabib yang dalam informasi, pengobatannya manjur. Sudah satu tahun setengah aku tidak menyetir mobil, tapi kemampuanku tak begitu berubah, hanya rasa kantukku yang amat sangat menyiksa, mata seperti ada bandul pemberat 1 kilo. Memang itu kesalahanku, aku menonton laga Manchester United melawan klub kesayanganku Mashester City hingga larut malam. Apalagi ditambah, ada kebiasaan tidur pagi yang sudah tak terelakkan. Kebiasaa buruk yang sudah menjadi karakter, aku benci tidur pagi, tapi berat untuk dihilangkan. Waktu shubuh yang seharusnya baik untuk menghafal, kugunakan untuk tidur karena sering tidur larut malam. Huh, ya Allah ampuni aku, rubahlah prilaku burukku...amin.
Benar kata abi, harus jangan jangan sia-siakan waktu, karena waktu tidak akan pernah kembali, sekali salah melangkah tunggu penyesalannya. Aku sadar, aku tobat, tapi hal ini tidak bisa membantu membuatku tidak mengantuk.
Ingin rasanya meminta izin kepada abi untuk istirahat sejenak, akan tetapi aku sangat tak tega untuk mengganggu abi yang sedang istirahat. Minum dan minum banyak tidak membantu, mencubit-cubit bagian muka, menampar-nampar juga tidak begitu menolong, Aku ngantuk lagi, aku putus asa, aku ingin membangunkan abi, dengan pasrah aku memohon kepada Allah Sang Pencipta segalanya. Akhirnya dengan meneteskan air mata, aku berdoa dengan segenap harap kepada Sang Pencipta Allah SWT agar menghilangkan rasa kantukku, agar aku bisa sedikit membantu abi mencari kesembuhan. Alhamdulillah, sekejap, entah itu merupakan keajaiban do’a anak kepada orang tua atau apa, setelah berdo’a rasa kantuk seakan sirna begitu saja, aku pun bisa menyetir dengan fit kembali. Mungkin ini yang kudengar bahwa doa anak kepada orang tua maka tidak ada hijab (penghalang) apalagi disaat genting seperti ini. terima kasih ya Allah.
Dua hari kemudian
Alhamdullah, abi sudah lumayan. Kesehatannya membaik. Abi sudah bisa berjalan dan mau makan. Karena selama abi sakit, nafsu makan abi hilang,. mungkin karena darah tinggi sehingga semua makanan terasa pahit. badan tinggal belulang, dari delapan puluhan kini tinggal lima puluhan, dan hanya besar diperut Aku tak tega melihat badan abi dan wajah sakit tapi terus ditutupi dengan senyum apabila bertatap dengan wajahku. Mengisyaratkan “Ncep, abi gak papa, jangan terlalu khawatir, teruslah belajar”. Tetes air mataku pun tak bisa dicegah lagi, melihat kerja keras abi menantang ribuan penyakit yang menyerang.
Sayangnya, Abi begitu tak bisa didikte, aku umi dan keluarga yang lain menginginkan abi istrahat total, tapi masih aja bandel. Abi pergi ke konstruksi bangunan yang belum jadi, katanya mau ngecek karena memang itu adalah tanggung jawab abi. Kesehatan abi pun down kembali. Hernia yang sudah tidak begitu terasa sakitnya kambuh lagi. Abi hanya bisa berbaring di kasur. Shalat pun sudah tak kuasa berdiri. Semua anggota keluarga cemas, para tetangga berdatangan, untuk memberi support dan do’a agar abi lekas sembuh.
Kebetulan ada sahabat abi yang pernah memilik penyakit yang sama memberikan celana hernia. Agar sedikit membantu menghilangkan rasa nyeri. Tapi abi enggan memakainya dengan alasan tidak bisa kentut. Aku marah dalam hatiku“Abi......!!!”, dan semua anggota keluarga juga sudah hampir putus asa dengan kekeraskepalaan abi.
Back to campus
Hari libur semester telah usai. Saatnya kembali ke kampus. Aku tidak memesan tiket bus pulang. Karena memang ingin lebih lama di rumah untuk merawat abi. Ah, kebiasaan kampus juga, sekitar dua minggu masih belum ada tugas. Minggu pertama perkenalan. Baru minggu kedua pembagian kelompok. Jadi masih ada dua minggu untuk di rumah. Tapi abi marah besar ketika tahu aku belum membeli tiket untuk kembali ke kampus. “maneh teh generasi penerus, saha anu arek neruskeun perjuangan abi, lamun maneh bodo, daek, mahasiswa-mahasiswi nu teu pernah shalat nu neruskeun perjuangan abi, nu mikirna ngan duit jeng duit, teu mikirkeun masyarakat nu miskin ilmu agama, maneh teh tugasna belajar, teungeutkeun eta?”(kamu itu generasi penerus, siapa yang mau meneruskan perjuangan abi, kalau kamu bodoh, kamu mau, yang meneruskan itu mahasiswa-mahasiswi yang tidak pernah shalat, yang mikirnya Cuma uang dan uang, tidak memikirkan masyarakat yang miskin ilmu agama, kamu tugasnya belajar, perhatikan itu....!!!) dengan nada tinggi abi memarahiku, dalam hatiku berkata “ abi....jangan mikirin yang aneh-aneh, pikirin kesehatan abi dulu, muluk-muluk amat sih?”. Kesal hatiku dimarahi habis-habisan. Aku pun memberanikan diri menjawab pertanyaan yang memang seharusnya tidak perlu dijawab. “pikirin kesehatan abi dulu” dengan nada datar, terbata-bata dan rendah. Dengan cepat abi menyahut “ Encep...!!!” dengan nada sangat tinggi. Dan tidak ada kata setelah itu, aku menunduk menyesal karena telah lancang kepada abi. Tidak pernah abi menggunakan nada setinggi itu, mungkin darah tinggi abi naik, muka abi memerah, seakan menahan rasa sakit yang sangat, nafas abi tersenggak-senggak tak beraturan, abi minta air, tenggorokannya gatal, tapi terlambat, abi keburu batuk keras, dan itu membuat hernia abi kambuh total, karena memang orang yang menderita penyakit hernia, harus diminimalisir batuk keras karena akan menambah sakitnya. abi sudah tak bisa menahan sakit, itu sangat kurasakan dari raut wajah abi, dan abi pun tak sadarkan diri dan jatuh ke lantai, beruntung umi sigap menangkap badan abi. Aku pun langsung membantu umi, dibantu pamanku ali, yang kebetulan sedang main ke rumah. Semua shock dengan kejadian ini. terlebih aku. Aku pun memarahi diriku sendiri,” Encep, kamu durhaka...durhaka...durhaka!!!” ucapan itu yang selalu kugaungkan dipikiranku. Baru sekali itu aku menjawab ucapan abi. Anggapanku, bahwa, aku sudah dewasa, seharusnya pertimbanganku didengarkan. “Ah, bodohnya aku, aku tidak mengira hal ini akan terjadi, maafkan aku abi, anakmu yang durhaka ini”. kata itu yang menghiasiku sambil menunggu siuman abi.
Seminggu kemudian
Aku sudah di surabaya, memulai perkuliahan dengan tanpa motivasi. Pikiranku kabur, hatiku kelabu. Yang kupikir hanya hal aneh-aneh yang tidak sama sekali kuinginkan terjadi kepada abi. Ya allah, hilangkan pikiran buruk ini. yang bisa kulakukan hanya do’a. Semangat kuliah menurun drastis. Teman-temanku bertanya keadaan anehku akhir-akhir ini. hanya kujawab dengan ringan“masalah remaja”. Asumsi mereka aku tenggelam di lautan cinta. Ada yang ingin membantu dengan menyarankanku curhat dan saling sharing siapa tahu bisa membantu. Mohon maaf kawan aku berbohong. Hal itu agar teman-temanku tidak tenggelam dalam penderitaanku.
Untung dikelas aku selalu bisa tersenyum bahkan tertawa, sejenak bisa mengobati kegusaranku, teman-temanku memang great selalu ada saja yang bisa menghibur. Terima kasih kawan....
Hadi Teman baikku yang selalu ada dalam bahagia maupun sedihku mengetahui bahwa aku tidak benar-benar jatuh dalam kubangan cinta, dia bilang aku bohong, aku pun tidak bisa berkata apa-apa, karena memang dia benar, dia memandangku tajam dan berkata “tidak mau cerita tidak apa-apa, bukan masalah bagiku, tapi masalahmu tidak akan selesai dengan terus-menerus murung, ayah dan ibumu di rumah tidak akan rela apabila kerja kerasnya selama ini dibalas dengan murung dan murung”.
Aku pun tersadar, alangkah bodohnya aku, ”abi.....umi....maafkan encep..... “ mulai hari ini, detik ini, aku berjanji tidak akan menghancurkan diriku dengan bermalas-malasan dan terus memikirkan hal yang belum tentu terjadi, aku akan membuat abi bangga sebelum akhir hayat, agar abi bisa tersenyum lega dipenghujung hidupnya nanti. “semangat...semangat.....ayo belajar....kejar cita-citamu, jangan ada malas lagi, buat bangga abi umi.....encep kamu pasti bisa, Ya Allah mudahkan jalanku...Amin” aku berkata pada diriku setelah merenungi perkataan temanku. Terima kasih Hadi.
Sebenarnya aku sudah terbiasa dengan hidup seperti ini. lumayan tiga tahun aku di pondok. Walaupun, keadaanya berbeda. Kala di pondok, setiap bulan aku bisa melihat wajah orang tuaku. Karena jarak antara rumah dan pondok hanya empat jam. Wajah nan teduh, penuh harap dan kerja keras, Keriput di hampir diseluruh wajah. Tak kuasa mataku meneteskan air mata untuk semua pengorbanan orang tuaku. Disaat umi dan abi bekerja keras untuk masa depanku, aku tak bersungguh-sungguh belajar, banyak menghabiskan waktu sia-sia, pesan shalat berjama’ah dari abi pun seakan menjadi angin lalu.
Jarak yang tadinya bukan merupakan hambatan besar. Kini telah berubah disaat aku harus pergi kuliah ke surabaya. Aku sudah tak mungkin lagi bertemu setiap bulan. Karena jarak yang begitu jauh. Dari tempatku kuliah saat ini sampai rumah sekitar dua hari. Sebenarnya bukan ini juga masalahku. Aku laki-laki, yang mempunyai sistem limbik yang kecil dibanding perempuan. Sistem limbik yang mengatur emosi seperti mencintai, membenci, jujur, gembira sedih dan lain-lain. Jadi, sangat tidak laki-laki banget apabila hanya karena ini aku cengeng. cukuplah aku berkangen ria melalui pesawat telpon. Itupun kalau kangen.
Masalah besarku muncul karena keadaan abi sakit. Disaat aku tidak bisa disisinya. Apalagi bukan sakit kelas biasa, batuk pilek dan lain-lain, maaf bukan maksudku meremehkan. Ini yang membuat hatiku remuk, Abi mengidap sakit komplikasi, segala penyakit berat dideritanya. Diabetes, asam urat, darah tinggi, jantung, kolesterol, sesak nafas dan tak tahu lagi nama penyakitnya, ditambah lagi ada penyakit Hernia.
Penyakit ini yang sejatinya harus segera dioperasi, tapi ketika akan dioperasi, hal itu tidak segampang itu kata dokter, jalan operasi sangat beresiko, karena jantung abi lemah, dan ditakutkan ketika dioperasi jantung tidak kuat, akibatnya bisa fatal. Ditambah diabetes, bisa-bisa bekas operasi bedah yang dilakukan tidak bisa kering dan akan membusuk, ini juga akibatnya fatal. Tapi kata dokter penyakit ini harus segera dioperasi. Cerita umi, dua bulan lalu, abi sudah dibawa kerumah sakit untuk dioperasi. Akan tetapi tiga hari untuk menfitkan kondisi abi gagal total. Abi tidak bisa tidur sama sekali di rumah sakit. Pihak rumah sakit dianggap gak care oleh abi terhadap jenis kontrolnya. Hanya dikontrol sekali sehari, dan itupun, ujar abi, tak seperti sungguhan. Akhirnya dengan emosi, abi meminta pulang ke rumah. Ini juga yang membuat hatiku hancur. Kesembuhan yang seakan di depan mata hangus terbakar emosi. Harapanku untuk membayangkan abi segar bugar alias sembuh tertunda entah sampai kapan. Atas kejadian ini, aku juga tak bisa seratus persen menyalahkan emosi abi yang tak terkontrol.
Liburan, Pulang Kampung
Liburan semester tiga, aku pulang karena ingin membantu merawat abi yang sudah sakit dan umi juga sudah sangat kangen. Aku pun mempunyai satu kesempatan untuk mengantarkan abi ke pengobatan alternatif, ya kata abi mencari kesembuhan itu jalannya banyak, mungkin inilah jalan kesembuhan yang Allah berikan. Tiga jam setengah aku mengantarkan abi dari rumah ke kota gajah, tempat tabib yang dalam informasi, pengobatannya manjur. Sudah satu tahun setengah aku tidak menyetir mobil, tapi kemampuanku tak begitu berubah, hanya rasa kantukku yang amat sangat menyiksa, mata seperti ada bandul pemberat 1 kilo. Memang itu kesalahanku, aku menonton laga Manchester United melawan klub kesayanganku Mashester City hingga larut malam. Apalagi ditambah, ada kebiasaan tidur pagi yang sudah tak terelakkan. Kebiasaa buruk yang sudah menjadi karakter, aku benci tidur pagi, tapi berat untuk dihilangkan. Waktu shubuh yang seharusnya baik untuk menghafal, kugunakan untuk tidur karena sering tidur larut malam. Huh, ya Allah ampuni aku, rubahlah prilaku burukku...amin.
Benar kata abi, harus jangan jangan sia-siakan waktu, karena waktu tidak akan pernah kembali, sekali salah melangkah tunggu penyesalannya. Aku sadar, aku tobat, tapi hal ini tidak bisa membantu membuatku tidak mengantuk.
Ingin rasanya meminta izin kepada abi untuk istirahat sejenak, akan tetapi aku sangat tak tega untuk mengganggu abi yang sedang istirahat. Minum dan minum banyak tidak membantu, mencubit-cubit bagian muka, menampar-nampar juga tidak begitu menolong, Aku ngantuk lagi, aku putus asa, aku ingin membangunkan abi, dengan pasrah aku memohon kepada Allah Sang Pencipta segalanya. Akhirnya dengan meneteskan air mata, aku berdoa dengan segenap harap kepada Sang Pencipta Allah SWT agar menghilangkan rasa kantukku, agar aku bisa sedikit membantu abi mencari kesembuhan. Alhamdulillah, sekejap, entah itu merupakan keajaiban do’a anak kepada orang tua atau apa, setelah berdo’a rasa kantuk seakan sirna begitu saja, aku pun bisa menyetir dengan fit kembali. Mungkin ini yang kudengar bahwa doa anak kepada orang tua maka tidak ada hijab (penghalang) apalagi disaat genting seperti ini. terima kasih ya Allah.
Dua hari kemudian
Alhamdullah, abi sudah lumayan. Kesehatannya membaik. Abi sudah bisa berjalan dan mau makan. Karena selama abi sakit, nafsu makan abi hilang,. mungkin karena darah tinggi sehingga semua makanan terasa pahit. badan tinggal belulang, dari delapan puluhan kini tinggal lima puluhan, dan hanya besar diperut Aku tak tega melihat badan abi dan wajah sakit tapi terus ditutupi dengan senyum apabila bertatap dengan wajahku. Mengisyaratkan “Ncep, abi gak papa, jangan terlalu khawatir, teruslah belajar”. Tetes air mataku pun tak bisa dicegah lagi, melihat kerja keras abi menantang ribuan penyakit yang menyerang.
Sayangnya, Abi begitu tak bisa didikte, aku umi dan keluarga yang lain menginginkan abi istrahat total, tapi masih aja bandel. Abi pergi ke konstruksi bangunan yang belum jadi, katanya mau ngecek karena memang itu adalah tanggung jawab abi. Kesehatan abi pun down kembali. Hernia yang sudah tidak begitu terasa sakitnya kambuh lagi. Abi hanya bisa berbaring di kasur. Shalat pun sudah tak kuasa berdiri. Semua anggota keluarga cemas, para tetangga berdatangan, untuk memberi support dan do’a agar abi lekas sembuh.
Kebetulan ada sahabat abi yang pernah memilik penyakit yang sama memberikan celana hernia. Agar sedikit membantu menghilangkan rasa nyeri. Tapi abi enggan memakainya dengan alasan tidak bisa kentut. Aku marah dalam hatiku“Abi......!!!”, dan semua anggota keluarga juga sudah hampir putus asa dengan kekeraskepalaan abi.
Back to campus
Hari libur semester telah usai. Saatnya kembali ke kampus. Aku tidak memesan tiket bus pulang. Karena memang ingin lebih lama di rumah untuk merawat abi. Ah, kebiasaan kampus juga, sekitar dua minggu masih belum ada tugas. Minggu pertama perkenalan. Baru minggu kedua pembagian kelompok. Jadi masih ada dua minggu untuk di rumah. Tapi abi marah besar ketika tahu aku belum membeli tiket untuk kembali ke kampus. “maneh teh generasi penerus, saha anu arek neruskeun perjuangan abi, lamun maneh bodo, daek, mahasiswa-mahasiswi nu teu pernah shalat nu neruskeun perjuangan abi, nu mikirna ngan duit jeng duit, teu mikirkeun masyarakat nu miskin ilmu agama, maneh teh tugasna belajar, teungeutkeun eta?”(kamu itu generasi penerus, siapa yang mau meneruskan perjuangan abi, kalau kamu bodoh, kamu mau, yang meneruskan itu mahasiswa-mahasiswi yang tidak pernah shalat, yang mikirnya Cuma uang dan uang, tidak memikirkan masyarakat yang miskin ilmu agama, kamu tugasnya belajar, perhatikan itu....!!!) dengan nada tinggi abi memarahiku, dalam hatiku berkata “ abi....jangan mikirin yang aneh-aneh, pikirin kesehatan abi dulu, muluk-muluk amat sih?”. Kesal hatiku dimarahi habis-habisan. Aku pun memberanikan diri menjawab pertanyaan yang memang seharusnya tidak perlu dijawab. “pikirin kesehatan abi dulu” dengan nada datar, terbata-bata dan rendah. Dengan cepat abi menyahut “ Encep...!!!” dengan nada sangat tinggi. Dan tidak ada kata setelah itu, aku menunduk menyesal karena telah lancang kepada abi. Tidak pernah abi menggunakan nada setinggi itu, mungkin darah tinggi abi naik, muka abi memerah, seakan menahan rasa sakit yang sangat, nafas abi tersenggak-senggak tak beraturan, abi minta air, tenggorokannya gatal, tapi terlambat, abi keburu batuk keras, dan itu membuat hernia abi kambuh total, karena memang orang yang menderita penyakit hernia, harus diminimalisir batuk keras karena akan menambah sakitnya. abi sudah tak bisa menahan sakit, itu sangat kurasakan dari raut wajah abi, dan abi pun tak sadarkan diri dan jatuh ke lantai, beruntung umi sigap menangkap badan abi. Aku pun langsung membantu umi, dibantu pamanku ali, yang kebetulan sedang main ke rumah. Semua shock dengan kejadian ini. terlebih aku. Aku pun memarahi diriku sendiri,” Encep, kamu durhaka...durhaka...durhaka!!!” ucapan itu yang selalu kugaungkan dipikiranku. Baru sekali itu aku menjawab ucapan abi. Anggapanku, bahwa, aku sudah dewasa, seharusnya pertimbanganku didengarkan. “Ah, bodohnya aku, aku tidak mengira hal ini akan terjadi, maafkan aku abi, anakmu yang durhaka ini”. kata itu yang menghiasiku sambil menunggu siuman abi.
Seminggu kemudian
Aku sudah di surabaya, memulai perkuliahan dengan tanpa motivasi. Pikiranku kabur, hatiku kelabu. Yang kupikir hanya hal aneh-aneh yang tidak sama sekali kuinginkan terjadi kepada abi. Ya allah, hilangkan pikiran buruk ini. yang bisa kulakukan hanya do’a. Semangat kuliah menurun drastis. Teman-temanku bertanya keadaan anehku akhir-akhir ini. hanya kujawab dengan ringan“masalah remaja”. Asumsi mereka aku tenggelam di lautan cinta. Ada yang ingin membantu dengan menyarankanku curhat dan saling sharing siapa tahu bisa membantu. Mohon maaf kawan aku berbohong. Hal itu agar teman-temanku tidak tenggelam dalam penderitaanku.
Untung dikelas aku selalu bisa tersenyum bahkan tertawa, sejenak bisa mengobati kegusaranku, teman-temanku memang great selalu ada saja yang bisa menghibur. Terima kasih kawan....
Hadi Teman baikku yang selalu ada dalam bahagia maupun sedihku mengetahui bahwa aku tidak benar-benar jatuh dalam kubangan cinta, dia bilang aku bohong, aku pun tidak bisa berkata apa-apa, karena memang dia benar, dia memandangku tajam dan berkata “tidak mau cerita tidak apa-apa, bukan masalah bagiku, tapi masalahmu tidak akan selesai dengan terus-menerus murung, ayah dan ibumu di rumah tidak akan rela apabila kerja kerasnya selama ini dibalas dengan murung dan murung”.
Aku pun tersadar, alangkah bodohnya aku, ”abi.....umi....maafkan encep..... “ mulai hari ini, detik ini, aku berjanji tidak akan menghancurkan diriku dengan bermalas-malasan dan terus memikirkan hal yang belum tentu terjadi, aku akan membuat abi bangga sebelum akhir hayat, agar abi bisa tersenyum lega dipenghujung hidupnya nanti. “semangat...semangat.....ayo belajar....kejar cita-citamu, jangan ada malas lagi, buat bangga abi umi.....encep kamu pasti bisa, Ya Allah mudahkan jalanku...Amin” aku berkata pada diriku setelah merenungi perkataan temanku. Terima kasih Hadi.







Tidak ada komentar:
Posting Komentar