Sungguh sulit memang menjadikan ide itu sebuah prestasi, karena kadang sebuah ide itu tidak suitable untuk dinilai sebagai prestasi. Bukan itu yang ingin saya permasalahkan dan saya angkat kepermukaan. Ada satu hal yang ingin saya share, dan mungkin ini akan membantu temen-temen dalam “Memprestasikan Ide”.
Mari simak ceritaku, cerita yang terinspirasi dari salah seorang dosen. Mungkin dalam satu setengah jam mata kuliah itu, hal inilah yang kutulis TEBAL dibinderku. Hehe....rada malez nulis yang laen kale.....
A adalah seorang dosen, dosen yang dari penampilannya/perawakannya saja sudah kelihatan bahwa beliau bukanlah seorang yang santai (dalam arti : tipe pekerja keras, giat dan sejenisnya), pesimistis, pasif, de el el. Sudah dipastikan sebagai seorang dosen yang produktif, banyak karya yang beliau telah tulis, baik ilmiah maupun non ilmiah.
Dosen A berbagi cerita ketika kuliah sedang berlangsung, pengalaman beliau mengenai mengeluarkan ide dari sang mencetus ide yakni otak (boleh baca : hati). Ketika beliau mendapatkan satu ide segar yang beliau anggap brilian, baru hipotesa bahwa itu adalah ide yang fantastis. Maka, waktu bukanlah batasan menjeda jemari beliau untuk menekan tuts-tuts laptop, “Mengeluarkan Semua Isi” dalam otak.
Pengalaman tak terlupakan yang pernah beliau rasakan dalam “Memprestasikan Ide” adalah beliau pernah tidak TIDUR 2 HARI 2 MALAM untuk mengeluarkan ide itu dari tempat tertinggi dalam tubuh manusia (baca: otak), sungguh luar biasa, apa alasannya? Hanya karena tidak ingin ide yang beliau anggap brilian itu hilang, atau tidak lagi sesempurna sekarang apabila tidak ditulis sekarang juga, saat itu juga. Bukankah itu menakjubkan??? Bukankah itu sebuah penghormatan, penghargaan terhadap ide yang terlintas dalam alam pikiran kita???
Bukan siapa nama dosen tersebut yang perlu kita tanyakan atau perdebatkan atau diskusikan. Tapi betapa gigihnya beliau untuk menulis sebuah ide yang sudah tergambar jelas dalam angan. Tanpa pikir panjang fisik, waktu beliau pun diforsir demi “Sang Ide”. Agar tidak kehilangan, atau basi dimakan waktu.
Sudah pasti semua manusia, terlebih mahasiswa berprestasi (Santri PBSB), memiliki beragam bahkan ribuan ide segar fantastis, akan tetapi pertanyaan setelah itu adalah, apakah ide itu sudah keluar dari “sarangnya”?, apakah sang ide sudah lahir dari alam pikiran menuju “dunia nyata”?, sudahkah??? Kalau belum.
Marilah teman, dengan teknologi yang sudah ada, kemapanan teknologi yang sudah tersedia, jangan sampai kita sia-siakan waktu, hanya untuk “memelihara” ide-ide dalam benak kita, mari kita “alirkan” ide itu dari muaranya, kita “alirkan” dalam bentuk konkrit, yang dapat dirasakan orang lain. Mari mengeluarkan ide, mari menulis, mari menghargai ide, mari saling memberikan manfaat kepada orang lain, dari sini eksistensi kita akan diakui, dari sinilah kita akan terkenang sepanjang masa, selama dunia ini belum hancur dimakan usia, selama dunia ini masih memberikan nafas kehidupan.
Selamat Berjuang, Selamat Menikmati Aktivitas Menulis
Selamat Menikmati Maha Karya Anda







Tidak ada komentar:
Posting Komentar